Sosok SBY Dengan Budaya Jawa

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang masih memiliki garis keturunan dengan Sri Sultan Hamengku Buwono II merupakan sosok yang selama ini mencoba berdiri di tengah antara budaya Jawa dan kehidupan modern dalam perjuangan meraih kesuksesan.

Hal ini disampaikan Sugeng Wiyono penulis buku "Belajar Spiritual Bersama `The Thinking General` " dalam diskusi buku di Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY), Selasa.

"Dalam keyakinan masyarakat Jawa seseorang yang ingin meraih cita-cita luhur harus melalui perjuangan keras baik itu melalui `laku` prihatin maupun menjaga sikap,` katanya.

Ia mengatakan, masyarakat Jawa juga yakin bahwa siapapun yang bisa mendapatkan `wahyu` atau `pulung` akan pula dapat memperoleh kekuasaan.

"Masyarakat yang sering melakukan laku prihatin ini bukan tidak mungkin akan mendapatkan `wahyu` atau `pulung` tersebut sehingga memperoleh kekuasaan," katanya.

Ia mengatakan, SBY dalam kehidupannya sejak kecil hingga saat ini mencoba untuk berdiri di tengah dan melakukan apa yang menjadi tradisi atau kepercayaan masyarakat Jawa yang dipadukan dengan kehidupan modern saat ini.

"Ini bisa dilihat bagaimana perjuangan SBY sejak kecil hingga ia menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer, dengan laku inilah SBY banyak memperoleh penghargaan hingga saat ini," katanya.

Ia menambahkan, budaya Jawa memiliki nilai-nilai yang cukup dalam seperti ungkapan ajining diri dumunung ono ing pangucaping lathi (harga diri terletak pada apa yang diucapkan) serta ajining rogo gumantung ono ing busono (kehormatan raga terletak pada busana yang dikenakan) dan ini merupakan pedoman dasar dalam kehidupan masyarakat.

"Upaya untuk melaksanakan pedoman tersebut juga merupakan perjuangan dan `laku prihatin` untuk bisa mencapai apa yang dicita-citakan," katanya.

Masih hidup

Sementara itu, Bambang K Prihandono, staf pengajar Fisipol UAJY mengatakan memang ada kemungkinan kepercayaan masyarakat akan `wahyu` atau `pulung` sampai saat ini masih hidup dan ini sering dimanfaatkan untuk meraih kekuasaan.

"Ada pengalaman teman saya menjadi tim sukses kakaknya dalam pemilihan kepala desa, kemudian ia menyewa sebuah lampu sorot yang sangat terang kemudian pada malam menjelang pemungutan suara lampu tersebut dibungkus dengan kain biru dan dinyalakan dari rumah sang calon," katanya.

Ia mengatakan, psikologi masyarakat yang masih percaya dengan adanya `wahyu` atau `pulung` tersebut ketika melihat ada sorot cahaya dari rumah sang calon merasa bahwa orang tersebut mendapatkan wahyu.

"Hebatnya pada saat pemungutan suara, sang calon berhasil meraih dukungan suara yang sangat besar sehingga memenangkan pemilihan kepala desa. Padahal ini hanya rekayasa dari adiknya yang melihat psikologi masyarakat untuk membaca pilihan politik lokal," katanya.

Ia mengatakan, kepercayaan masyarakat dimana yang mendapatkan `wahyu` atau `pulung` dijadikan rujukan bahwa pemimpin adalah mereka yang mendapatkan pulung.

Menurut dia, isi buku tersebut sebenarnya tidak menjelaskan bagaimana perjalanan SBY dalam menekuni atau menjalani tradisi Jawa dan tokoh SBY hanya dijadikan perumpamaan dalam setiap topik bahasan.

"Buku ini tidak menggambarkan dengan jelas bagaimana SBY melakukan budaya Jawa tersebut, ini bukan kesalahan penulis namun ini merupakan kegagalan dari sang editor yang hanya melihat dari sisi momentum untuk merebut pasar," katanya.

Sementara itu politikus Partai Demokrat Roy Suryo dalam kesempatan tersebut mengatakan, buku tersebut berisi pokok-pokok ajaran Jawa yang sangat tinggi nilainya dan ini juga nampak dalam kehidupan keseharian SBY.

"Mungkin SBY tidak mendapatkan pulung, tetapi dia mampu memperoleh kharisma atau dapat menciptakan citra, SBY sadar bagaimana ketika harus berbicara di depan publik dan memiliki kesadaran bermedia yang baik untuk membangun citra positif," katanya

4 Cara Menemukan Pria Idaman

Anda sudah berusaha mencari pria terbaik. Tapi selalu saja gagal di tengah jalan, karena berbagai alasan. Anda menjadi bertanya-tanya mengapa sulit sekali mendapatkan pria yang sesuai dengan kriteria.

Sebelum melangkah maju untuk mencari pasangan baru. Simak tips dari eHow berikut ini, yang dapat membantu untuk menemukan pangeran impian Anda.

Rasional dalam mencari pria idaman
Seringkali wanita memiliki kriteria yang tidak rasional. Boleh saja memiliki kriteria kriteria tertentu pria, tapi jangan sampai Anda menjadi tidak fleksibel, sehingga malah kesulitan menemukan orang yang ideal. Misalnya kriteria kekasih yang memiliki posisi karir, pendidikan dan finansial yang lebih tinggi. Pria mapan semacam itu biasanya sudah berumur dan telah memiliki keluarga. Jadi, bijaklah dalam mencari target pria idaman Anda.

Jangan mencari di tempat yang salah
Kesempatan Anda untuk menemukan pria yang baik sangat kecil, jika Anda mencarinya di sebuah club atau atau bar. Pria baik-baik, cenderung menjauhi tempat-tempat 'hang out' tersebut. Tempat yang baik untuk menemukan pria idaman adalah di perpustakaan, toko buku, di pameran budaya atau di tempat seminar.

Meminta bantuan teman

Jangan segan untuk meminta rekan kerja atau sahabat untuk mencarikan Anda pasangan. Siapa tahu dari mereka Anda akan mendapatkan pria idaman.

Percaya diri
Kebanyakan wanita sulit mendapatkan pasangan karena mereka tidak memiliki kepercayaan diri. Mulailah bangun kepercayaan diri Anda. Pria tidak hanya melihat dari keseksian dan kecantikan fisik seorang wanita. Wanita yang percaya diri dengan apa yang dia punya akan dinilai lebih cantik dan seksi oleh pria, percayalah!

Antara Pemimpin dan Pemimpi

Manusia terlahirkan sebagai Pemimpin
Pemimpin baik lingkungan, keluarga, bangsa dan agama nya
Semua akan dipertanggung jawabkan dikemudian hari........
Pemimpi adalah sesuatu yang enak dilakukan tetapi membuat kita jalan ditempat. Mimpi adalah sesuatu hal yang indah, apalagi untuk memimpikan hal yang jauh lebih baik. Tetapi mengapa kita tidak boleh larut dengan mimpi...?
Manusia dilahirkan ke dunia untuk tetap terus berusaha dan berusaha karena dengan begitu, manusia bukan akan menjadi Pemimpi, tetapi manusia akan menjadikan dirinya sebagai Pemimpin masa depan nantinya.

Pemimpin menurut versi saya adalah berasal dari kata Mimpi yang NYATA.dalam arti sesungguhnya adalah mimpi yang berwujud nyata yang dilakukan dengan kerja keras.
Menjadi seorang PEMIMPIN tidaklah sama dengan seorang PEMIMPI karena besarnya tanggung jawab, besarnya amanah yang harus diemban.
Jadi PEMIMPIN adalah musibah dan bukan anugerah…bayangkan apabila tidak bisa menjaga amanah tersebut maka hancur sudah hidup sang PEMIMPIN.
Tetapi sekarang ini di negeri kita banyak PEMIMPIN yang hanya ingin menjadi PEMIMPI. Mengapa demikian ?

Karena kita melihat ketika dia diberikan amanah, bukannnya mewujudkan apa yang telah dijanjikan tetapi malah hanya bermimpi dengan angan-angan.
Kalau dibilang kendala atau masalah, namanya juga hidup semua itu harus dan sering terjadi.Tetapi bagaimana sebagai PEMIMPIN, manusia harus tetap eksis dengan apa yang telah diucapkan.

Sekarang tinggal kita bisa memilih...apakah kita mau jadi PEMIMPI atau PEMIMPIN untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan agama.......

Di Tulis Oleh: Ali Mustofa

Fenomena Kehidupan Jawa

Mejadi fenomena tersendiri bagi sebagian besar Suku Jawa di Indonesia dalam menjalani kehidupan sehari-sehari yang senantiasa berjalan seiring pengaruh globalisasi dibidang ekonomi , social dan budaya. Orang di pulau jawa yang hingga kini masih mengakui kejawaanya misalnya didaerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, walau di Jawa Timur sendiri terdiri dari berbagai suku misalnya Suku Madura yang banyak tinggal di Pulau Madura, di Surabaya, Lumajang, dan di Jember. Sedangkan Suku Tengger yang hanya tinggal di Pegunungan Tengger dan Bromo , Suku Samin di pedalaman Pegunungan Kendeng. Kedua suku terakhir agak sulit tersentuh dengan teknologi dan gaya hidup masa kini tapi tidak juga dikatakan Primitif. Tidak ada penjelasan dan penelitian yang jelas tentang keterangan bahwa Suku Samin adalah keluarga Suku Badui yang banyak hidup di Jawa Barat.
Pola hidup Suku Jawa yang bisa beradaptasi mengikuti perkembangan jaman membuat beberapa dampak baik positif maupun negative. Dalam sejarah Indonesia tidak diketemukan semacam Restorasi Meiji seperti di Jepang. Masyarakat jawa hidup lebih banyak belajar dari gaya hidup bangsawan kerajaan, belajar dari para cendekiawan, belajar dari ajaran para pahlawan, dan belajar dari penderitaan alam penjajahan kolonialisme, belajar dari bertapa dan mendapatkan semacam “wangsit”, Kaisar Meiji mendapatkan wangsit untuk memasukkan ajaran teknologi dalam kurikulum hidup budaya jepang kemudian “kebijakannya itu “ tidak akan ada yang membantah karena dianggap anak dewa oleh rakyatnya. Sedangkan orang jawa sejak dari leluhurnya belajar untuk tidak menyembah berhala dan memberhalakan manusia, melainkan mengenal diri dan mengenal tuhannya sehingga akhirnya membangkitkan kesadaran secara bersama-sama dan kolektif sehingga sangat sulit mencari “ induk suku jawa” yang kemudian bisa dikemudikan oleh penjajah. Inilah sebabnya tidak diketahui siapa awal yang merestorasi kehidupan jawa hingga seperti ini.
Dalam budaya jawa seorang lelaki adalah pemimpin , keberhasilan seorang pemimpin didalam rumah tangganya dikatakan berhasil bila mempunyai 4 pegangan yaitu:
1. Pusaka: lambangnya seorang lelaki harus mempunyai senjata misalnya keris yaitu umumya berbentuk senjata penusuk terbuat dari logam batu meteor/baja kuno panjangnya sekitar 5 cm hingga 60 cm berkelok-kelok (ber-luk) antara 3-13 luk, atau senjata tombak. Secara makna/pengertiannya lelaki harus berpengetahuan teknologi atau pengetahuan , berketrampilan, berkemampuan kecil atau besar yang bisa diandalkan ( perfect kompeten) dibidangnya baik berijazah/bersertifikat maupun tanpa sertifikat yang berguna menjadi sumber penghasilan dalam keluarganya.
2. Garwa: lambangnya adalah istri,(Sigarane nyowo) bahwa seorang lelaki harus beristri disamping melambangkan kelelakiannya juga mendapatkan ketenangan dalam hidupnya, dalam arti maknanya seorang lelaki walau tanpa isteri harus menjunjung tinggi jasa dan pengorbanan seorang ibu yang melahirkannya didunia. Dalam masyarakat jawa seorang ibu yang baik di anggap keramat yang tinggi seperti penghormatan pada tuhan.
3. Griya: lambangnya adalah rumah atau tempat tinggal, artinya seorang lelaki harus menjadi pelindung bagi anak dan istrinya, berpenghasilan yang aman walau tidak tetap. Melindungi keluarga dari segala gangguan.
4. Turangga: lambangnya adalah kuda/kendaraan transportasi artinya adalah dalam menjalani kehidupan pasti datangnya banyak masalah, seorang pemimpin harus mempunyai daya analisis pemecahan masalah yang cermat, tepat dengan hasil yang bagus dan resiko yang kecil hingga dihasilkan keputusan yang benar – benar tidak merugikan atau hanya berharap kerugian yang kecil.
Ada banyak ajaran dari budaya seorang manusia jawa yang telah berhasil dalam hidupnya adalah bila telah mampu membersihkan hatinya yang berarti telah menjalani ilmu kasampurnaan , bila hati telah bersih dari niat jahat maka pikiran, ucapan dan berbuatan juga telah hindar dari kejahatan, dalam pepatah jawa “ Kamulyaning Hurip Dumunung Hing Ati” yang artinya kemulyaan/kebahagiaan/prestasi jati diri hidup berada dalam hati. Seiring dengan kondisi jaman kadang masyarakat jawa juga banyak yang lupa bahwa indicator hidup berhasil adalah karena kecantikanya, karena saktinya, karena jumlah pabriknya, karena kekayaanya, karena kepandaiannya, karena banyak anaknya banyak rejekinya dll.

Wejangan Dewa Ruci

Wejangan Dewo Ruci
Termangu sang bima di tepian samudera, dibelai kehangatan alun ombak setinggi betis, tak ada lagi tempat bertanya, sesirnanya sang naga nemburnawa, dewaruci, sang marbudyengrat, memandangnya iba dari kejauhan,
tahu belaka bahwa tirta pawitra memang tak pernah ada
dan mustahil akan pernah bisa ditemukan
oleh manusia mana pun.
menghampir sang dewa ruci sambil menyapa:
'apa yang kau cari, hai werkudara,
hanya ada bencana dan kesulitan yang ada di sini
di tempat sesunyi dan sekosong ini'

terkejut sang sena dan mencari ke kanan kiri
setelah melihat sang penanya ia bergumam:
'makhluk apa lagi ini, sendirian di tengah samudera sunyi
kecil mungil tapi berbunyi pongah dan jumawa?

serba sunyi di sini, lanjut sang marbudyengrat
mustahil akan ada sabda keluhuran di tempat seperti ini
sia-sialah usahamu mencarinya tanpa peduli segala bahaya

sang sena semakin termangu menduga-duga,
dan akhirnya sadar bahwa makhluk ini pastilah seorang dewa
ah, paduka tuan, gelap pekat rasa hatiku.
entahlah apa sebenarnya yang aku cari ini.
dan siapa sebenarnya diriku ini

ketahuilah anakku, akulah yang disebut dewaruci, atau sang marbudyengrat
yang tahu segalanya tentang dirimu
anakku yang keturunan hyang guru dari hyang brahma,
anak kunti, keturunan wisnu yang hanya beranak tiga, yudistira, dirimu, dan janaka.
yang bersaudara dua lagi nakula dan sadewa dari ibunda madrim si putri mandraka.
datangmu kemari atas perintah gurumu dahyang durna
untuk mencari tirta pawitra yang tak pernah ada di sini

bila demikian, pukulun, wejanglah aku seperlunya
agar tidak mengalami kegelapan seperti ini
terasa bagai keris tanpa sarungnya

sabarlah anakku,.memang berat cobaan hidup
ingatlah pesanku ini senantiasa
jangan berangkat sebelum tahu tujuanmu,
jangan menyuap sebelum mencicipnya.
tahu hanya berawal dari bertanya, bisa berpangkal dari meniru,
sesuatu terwujud hanya dari tindakan.

janganlah bagai orang gunung membeli emas,
mendapat besi kuning pun puas menduga mendapat emas
bila tanpa dasar, bakti membuta pun akan bisa menyesatkan

duh pukulun, tahulah sudah di mana salah hamba
bertindak tanpa tahu asal tujuan
sekarang hamba pasrah jiwaraga terserah paduka.

nah, bila benar ucapanmu, segera masuklah ke dalam diriku.
lanjut sang marbudyengrat

sang sena tertegun tak percaya mendengarnya
ah, mana mungkin hamba bisa melakukannya
paduka hanyalah anak bajang sedangkan tubuh hamba sebesar bukit
kelingking pun tak akan mungkin muat.

wahai werkudara si dungu anakku,
sebesar apa dirimu dibanding alam semesta?
seisi alam ini pun bisa masuk ke dalam diriku,
jangankan lagi dirimu yang hanya sejentik noktah di alam.

mendengar ucapan sang dewaruci sang bima merasa kecil seketika,
dan segera melompat masuk ke telinga kiri sang dewaruci
yang telah terangsur ke arahnya

heh, werkudara, katakanlah sejelas-jelasnya
segala yang kau saksikan di sana

hanya tampak samudera luas tak bertepi, ucap sang sena
alam awang-uwung tak berbatas hamba semakin bingung
tak tahu mana utara selatan atas bawah depan belakang

janganlah mudah cemas, ujar sang dewaruci
yakinilah bahwa di setiap kebimbangan
senantiasa akan ada pertolongan dewata

dalam seketika sang bima menemukan kiblat dan melihat surya
setelah hati kembali tenang tampaklah sang dewaruci di jagad walikan.

heh, sena! ceritakanlah dengan cermat segala yang kau saksikan!

awalnya terlihat cahaya terang memancar, kata sang sena
kemudian disusul cahaya hitam, merah, kuning, putih.
apakah gerangan semua itu?

ketahuilah werkudara, cahaya terang itu adalah pancamaya,
penerang hati, yang disebut mukasipat (mukasyafah),
penunjuk ke kesejatian, pembawa diri ke segala sifat lebih.
cahaya empat warna, itulah warna hati
hitam merah kuning adalah penghalang cipta yang kekal,
hitam melambangkan nafsu amarah, merah nafsu angkara, kuning nafsu memiliki.
hanya si putih-lah yang bisa membawamu
ke budi jatmika dan sanggup menerima sasmita alam,

namun selalu terhalangi oleh ketiga warna yang lain
hanya sendiri tanpa teman melawan tiga musuh abadi.
hanya bisa menang dengan bantuan sang suksma.
adalah nugraha bila si putih bisa kau menangkan
di saat itulah dirimu mampu menembus segala batas alam tanpa belajar.

duhai pukulun, sedikit tercerahkan hati hamba oleh wejanganmu
setelah lenyap empat cahaya, muncullah nyala delapan warna,
ada yang bagai ratna bercahaya, ada yang maya-maya, ada yang menyala berkobar.

itulah kesejatian yang tunggal, anakku terkasih
semuanya telah senantiasa ada dalam diri setiap mahluk ciptaan.
sering disebut jagad agung jagad cilik

dari sanalah asal kiblat dan empat warna hitam merah kuning putih
seusai kehidupan di alam ini semuanya akan berkumpul menjadi satu,
tanpa terbedakan lelaki perempuan tua muda besar kecil kaya miskin,
akan tampak bagai lebah muda kuning gading
amatilah lebih cermat, wahai werkudara anakku

semakin cerah rasa hati hamba.
kini tampak putaran berwarna gading, bercahaya memancar.
warna sejatikah yang hamba saksikan itu?

bukan, anakku yang dungu, bukan,
berusahalah segera mampu membedakannya
zat sejati yang kamu cari itu tak tak berbentuk tak terlihat,
tak bertempat-pasti namun bisa dirasa keberadaannya di sepenuh jagad ini.

sedang putaran berwarna gading itu adalah pramana
yang juga tinggal di dalam raga namun bagaikan tumbuhan simbar di pepohonan
ia tidak ikut merasakan lapar kenyang haus lelah ngantuk dan sebagainya.
dialah yang menikmati hidup sejati dihidupi oleh sukma sejati,
ialah yang merawat raga
tanpanya raga akan terpuruk menunjukkan kematian.

pukulun, jelaslah sudah tentang pramana dalam kehidupan hamba
lalu bagaimana wujudnya zat sejati itu?

itu tidaklah mudah dijelaskan, ujar sang dewa ruci, gampang-gampang susah
sebelum hal itu dijelaskan, kejar sang bima, hamba tak ingin keluar dari tempat ini
serba nikmat aman sejahtera dan bermanfaat terasa segalanya.

itu tak boleh terjadi, bila belum tiba saatnya, hai werkudara
mengenai zat sejati, engkau akan menemukannya sendiri
setelah memahami tentang penyebab gagalnya segala laku serta bisa bertahan dari segala goda,
di saat itulah sang suksma akan menghampirimu,
dan batinmu akan berada di dalam sang suksma sejati

janganlah perlakukan pengetahuan ini seperti asap dengan api,
bagai air dengan ombak, atau minyak dengan susu
perbuatlah, jangan hanya mempercakapkannya belaka
jalankanlah sepenuh hati setelah memahami segala makna wicara kita ini
jangan pernah punya sesembahan lain selain sang maha luhur
pakailah senantiasa keempat pengetahuan ini
pengetahuan kelima adalah pengetahuan antara,
yaitu mati di dalam hidup, hidup di dalam mati
hidup yang kekal, semuanya sudah berlalu
tak perlu lagi segala aji kawijayan, semuanya sudah termuat di sini.

maka habislah wejangan sang dewaruci,
sang guru merangkul sang bima dan membisikkan segala rahasia rasa
terang bercahaya seketika wajah sang sena menerima wahyu kebahagiaan
bagaikan kuntum bunga yang telah mekar.
menyebarkan keharuman dan keindahan memenuhi alam semesta

dan blassss . . . !
sudah keluarlah sang bima dari raga dewaruci sang marbudyengrat
kembali ke alam nyata di tepian samodera luas sunyi tanpa sang dewaruci

sang bima melompat ke daratan dan melangkah kembali
siap menyongsong dan menyusuri rimba belantara kehidupan
tancep kayon

Sumber :http://xendro.wordpress.com

Kisah Dan Mp3 Ma,rifat Dewa Ruci (Ki Enthus Susmono)

Seperti diketahui, wayang yang berkembang 5-6 abad yang lalu di wilayah yang kita sebut Nusantara ini, mengadaptasi cerita Ramayana dan Mahabharata dari India, dan mengolahnya, meng-improvisasi dan menambah di sana sini agar sesuai dengan kondisi kita. Selain berfungsi sebagai hiburan, lakon wayang juga membawa serta pesan, pitutur dan petuah dari leluhur untuk menjalani hidup benar.
Pesan ini biasa dititipkan dalam lakon-lakon sisipan atau yang lazim disebut carangan. Biasanya penyampaiannya amat halus dan tersamar. (Tidak seperti sinetron atau filem kita sekarang, petuah biasanya datang secara verbal, jelas dan kasar).
Lakon Dewa Ruci ini adalah lakon carangan dari Mahabharata yang boleh dibilang penting dan “berat”. Seperti lakon lainnya yang kelas “berat”, (Lahirnya Kurawa, Pandhawa Moksha, Kumbakarna Gugur), lakon ini jarang dipentaskan. Tidak semua dalang mau dan mampu mementaskannya secara sembarangan. Meskipun demikian, dan juga meskipun ceritanya sangat sederhana dan tidak menarik, lakon ini menjadi cerita favorit para orang tua yang bercerita kepada anaknya, Guru kepada muridnya, dan…………aliran kebathinan yang disebut Kejawen. (yang dulu di jaman Soeharto disebut Aliran Kepercayaan itu).
Lakon ini menjadi berat, karena cerita di dalamnya mengandung jalan kontemplasi tentang asal dan tujuan hidup manusia (sangkan paraning dumadi), menyingkap kerinduan akan Tuhan dan perjalanan rohani untuk mencapaiNya (manunggaling kawula Gusti).
Karena terhitung favorit, lakon ini banyak sekali variasinya, tergantung siapa yang menuturkannya dan siapa dhalang yang memainkannya. Menurut Poerbatjaraka, doktor Antropologi itu (1940), paling tidak ada 40 naskah lakon yang juga disebut sebagai Bima Suci ini. 19 naskah diantaranya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Yang paling terkenal, adalah gubahan pujangga keraton Surakarta Yosodipuro berjudul “Serat Kidung Dewa Ruci”, yang disampaikan dalam bentuk tembang macapat, dengan bahasa Kawi-Sansekerta dan Jawa Kuno.
Ringkasan Cerita
Cerita ini terjadi saat Pandhawa bersama saudara-saudara sepupunya, Kurawa sedang bersama menimba ilmu pada guru yang sama Resi Durna atau Kumbayana. Kurawa yang amat menyadari bahwa tahta kerajaan Astina yang saat itu diduduki ayah mereka, Destrarastra, adalah sekadar titipan dari ayah Pandhawa, Pandu Dewanata yang mati muda. Kalaulah nanti Pandhawa telah dewasa, tahta itu harus dikembalikan kepada mereka. Dan para saudara Kurawa yang berjumlah seratus itu, bakal lontang-lantung jadi preman. Karena itu, sejak awal, Kurawa dengan berbagai jalan berusaha keras untuk melenyapkan Pandhawa, halus ataupun kasar. Sebenarnya juga para Kurawa yang muda, berangasan  dan pendek akal itu tidak mampu merancang tindakan yang kebanyakan jenius itu, tanpa bantuan sang pemikir, Harya Sangkuni, atau Arya Suman, adik ibunya Gendari, yang diangkat jadi Patih kerajaan Astina  Wajar saja, sang Paman juga sangat berkepentingan akan kelangsungan kekuasaan keponakannya kan? Kalau saja Pandhawa dapat menguasai kerajaan, apa iya dia gak jadi kere?. Dengan akal jenius, Patih Sangkuni berhasil membujuk Resi Durna untuk membantu program Kurawa itu. Melenyapkan Pandhawa! Sasaran utamanya adalah Pandhawa si nomer 2, Raden Wrekudara alias Arya Bimasena dan si nomer 3 Raden Janaka alias Harjuna, 2 orang Pandhawa yang kesaktiannya menyundul langit itu. Kalau 2 orang itu sudah “game over”, yang lain cemen saja. Untuk saat ini, skala prioritasnya adalah Sang Bimasena, yang punya posisi strategis di Pandhawa, sebagai Palang Pintu, seperti posisi Carles Puyol di Barcelona FC.
Sang Puyol, eh salah…….. sang Bima yang memang sudah menyelesaikan sesi latihan ragawinya kemudian diutus sang Guru Resi Durna untuk mencari “Tirta Prawitasari”, air kehidupan, guna menyucikan bathinnya demi kesempurnaan hidupnya. Benda itu, harus dicari di hutan Tibaksara di gunung Reksamuka. Ketika menghadap ibunya, Dewi Kunthi, saudara-saudaranya yang lain mengingatkan bahwa mungkin ini hanya jebakan Sangkuni  Karena hutan itu sudah terkenal sebagai  “alas gung liwang liwung, sato mara, sato mati” (hutan raya tak tertembus, mahluk yang mencoba masuk 99,99% is dead).
Tapi Bima ngotot dan pede abis, perintah Guru tidak mungkin ditolaknya meskipun karena itu dia harus menyerahkan jiwanya. Melihat keteguhan hati anaknya, sang Ibu akhirnya merestuinya. Sang Bima pun akhirnya berangkat menjalankan tugas gurunya.
Seluruh hutan sudah dijelajahinya, tapi yang dicari tak ada, malah membangunkan 2 raksasa penunggu hutan Rukmuka dan Rukmakala yang lagi enak-enak tidur. Perkelahian segera terjadi dan 2 raksasa itu terbunuh oleh Sang Bima.
Menyadari bahwa yang dicarinya tidak ada, Sang Bima kembali menghadap gurunya. Gurunya yang semula kaget, kokbisa-bisanya ada mahluk yang keluar hidup-hidup dari hutan Tibaksara itu, lalu menyuruh untuk melakukan yang lebih sulit. Tirta Prawitasari itu harus dicari di kedalaman lautan! Tanpa banyak bertanya apalagi meragukan perintah sang Guru, Sang Bimasena pun langsung berangkat.
Seisi lautan diaduknya, seekor Naga yang menghalangi jalannya disingkirkannya, tapi yang dicarinya tidak juga ketemu. Ditengah kebingungannya, dia menemukan mahluk serupa dirinya dalam ukuran yang lebih kecil, yang meniti ombak lautan, mendekati dirinya. Mahluk itu memperkenalkan dirinya sebagai Sang Dewa Ruci,  sang suksma sejatinya, dirinya yang sebenarnya. Pembicaraan antara 2 mahluk inilah yang menjadi inti cerita ini, sayang sekali saya tidak mampu menguraikannya secara tepat karena ilmu saya yang terbatas. Akhirnya Sang Bimasena masuk ke dalam wadag Sang Dewa Ruci melalui kuping kirinya, dan mendapat penjelasan tentang hidup sejatinya.
Cerita selesai sampai disini.
Kalaupun ada lanjutannya, paling itu bunganya saja,  yakni para Kurawa yang tunggang langgang dihajar dan tarian kemenangan Sang Bima Sena.
Lambang, pitutur, petuah, esensi cerita
Untuk mendapatkan “inti pengetahuan sejati” (Tirta Prawitasari) Sang Bima harus menempuh ujian fisik dan mental sangat berat, (Hutan Tibaksara “tajamnya cipta“; Gunung Reksamuka, “pemahaman mendalam“). Sang Bimasena tidak akan mampu menuntaskannya tanpa membunuh raksasa Rukmaka “kamukten, kekayaan” dan Rukmakala “kemuliaan” . Tanpa mengendalikan nafsu dunianya dalam batas maksimum.
Perjalanannya menyelam ke dasar laut diartikan dengan “samodra pangaksami” pengampunan. Membunuh Naga yang mengganggu jalannya simbol dari melenyapkan kejahatan dan keburukan diri.
Pertemuannya dengan Sang Dewa Ruci melambangkan bertemunya Sang Wadag dengan Sang Suksma Sejati. Masuknya wadag Bima kedalam Dewa Ruci dan menerima Wahyu Sejati bisa diartikan dengan “Manunggaling Kawula-Gusti“, bersatunya jati diri manusia yang terdalam dengan Penciptanya. Kemanunggalan ini mampu menjadikan manusia untuk melihat hidupnya yang sejati. Dalam istilah Kejawen “Mati sajroning urip, urip sajroning mati“. (Mati di dalam Hidup, dan Hidup di dalam Mati). Ini adalah esensi dari Kawruh Kejawen. Perjalanan tasawuf untuk menukik ke dalam dirinya sendiri.

Adio/Mp3 Wayang Kulit Bersama ki Dalang Enthus Susmono dari Tegal Jawa Tengah Dengan Lakon Ma'rifat Dewa Ruci

Seni Tradisional Wayang Sekaligus Petuah Alamiah

Wayang adalah bagian dari seni tradisional jawa yang memperlihatkan dan mengajarkan tentang petuah-petuah alamiah dan amaliyah. Disebut alamiah karena cerita yang terkandung didalamnya memuat berbagai macam fenomena alam yang cerdik dikemas oleh dalangnya. Sementara yang menceritakan tentang tindakan-tindakan atau perbuatan itu pun termasuk bagian dari substansi cerita wayang yang bermakna amaliyah. Disamping itu, wayang mempunyai ciri khas budaya jawa yang seolah-olah masyarakat memaknainya sebagai tradisi. Sebuah tradisi masyarakat jawa bersifat kulturalisme realistis karena apa yang terjadi di masyarakat jawa diceritakan melalui tokoh pewayangan.

Di jawa, ada beberapa macam pengklasifikasian wayang menurut jenisnya. Banyak kalangan masyarakat yang mengenal jenis wayang mulai dari wayang kulit, wayang wong, wayang golek, wayang suket, dsb. Semua jenis wayang tersebut mempunyai ciri-ciri tersendiri untuk mewakili cerita.
Konstruktivitas kontekstual

Lantas apa hubungan wayang sebagai media pembelajaran? Pertanyaan itu menjadi sebuah pandangan baru yang harus dipikirkan dan dimaknai sebagai tool media pengajaran di kelas. Pementasan wayang dalam sebuah hajatan sudah menjadi hal yang biasa. Akan tetapi, pemakanaannya akan lain jika wayang tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan khususnya sebagai media pengajaran di kelas. Secara umum, dunia wayang lebih menyentuh dalam pelajaran bahasa Jawa. Bahasa jawa sebagai kurikulum yang andil membuka wahana superior budaya lokal. Artinya, bahwa pelajaran bahasa Jawa lebih cenderung mengacu pada kehidupan jawa, budaya jawa, dan fenomena jawa.
Purwanto, seorang dalang sekaligus guru di SD Banyumanik 01 02 Semarang, sudah menerapkan pengajaran bahasa jawa di kelas melalui dunia wayang kulit. Bagi dia, pengajaran bahasa jawa di kelas SD lebih diterima oleh para siswa karena selain menyenangkan juga memudahkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkannya (SM, 02/07/2008). Menurut Purwanto, banyak petuah yang bisa diambil dari tokoh-tokoh wayang yang ada. Masing-masing tokoh memiliki karakter yang beda. Alhasil, dari pengajaran melalui media wayang kulit, siswa dapat belajar hal yang baik dan buruk sesuai dengan karakter tokoh wayang yang dipelajari.
Sebenarnya media pembelajaran melalui media pewayangan tidak harus terikat dalam satu sifat materi pelajaran itu sendiri. Artinya, seorang guru tidak mengajar hanya disesuaikan dengan materi pelajaran satu saja, akan tetapi juga implikatif digunakan untuk materi pelajaran yang lain. Hal tersebut bisa menjadi sebuah paradoks baru yang membidangi kontak kultur sosial jawa.
Sebuah evidence yang mengandung arti sosial adalah pemahaman moralitas masyarakat jawa yang sekarang dirasa makin luntur dengan peradaban barat. Pengaruh baratisme (westernisasi) sudah sangat padat, kental, dan mampu merubah pandangan mayarakat jawa itu sendiri dengan kaidah moral barat. Banyak testimoni dari pelbagai media cetak yang sering membicarakan tentang perubahan kultur moralitas masyarakat Jawa. Mereka memberikan alasan yang kontruktif terhadap pendidikan. Yakni, asinasi barat terhadap masyarakat jawa terjadi karena pendidikan tentang kultur jawa sendiri kurang diperhatikan, sehingga output pendidikan moral pun terlewatkan. Bahkan, menurut orang tua jawa sering mengatakannya dengan ungkapan ’ora njawani’.
Pentingnya pola pemahaman dan penerapan kaidah jawa memang harus dimulai dan dikenalkan sejak pendidikan dasar. Melalui pola pengajaran dengan media pewayangan sudah sangat representatif membentuk pola hidup njawani. Sekaligus dapat membawa peradaban bersifat kedaerahan yang betul-betul mencerminkan tradisi budaya daerah.
Kesadaran dan pemahaman

Masih terkait dengan kultur pewayangan yang memiliki sifat atau perwatakan, wayang justru harus dipahami dalam unsur aforis yang lain. Identitas wayang sebagai komoditas budaya dan kesenian tradisonal Jawa harus lebih diberi perhatian yang seksama.

Persoalan kesadaran ataupun tidak, perlu adanya simbol kepekaan dalam diri seorang guru untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa. Dalam hal ini, seorang guru memerlukan tindakan aktif yang mengarah pada kecerdasan emosional siswa.

Siswa akan terbiasa berkreasi bila gurunya memberikan banyak ruang untuk mereka, misalnya guru memberikan kesempatan siswa untuk membuat kerajinan tangan yang menghasilkan bentuk wayang-wayangan. Dengan menghadirkan kesempatan seperti itu, diharapkan siswa akan lebih bergerak bebas kepada apa yang sedang dihadapinya secara langsung. Kemudian mereka juga di ajak untuk menghiasi kerajinannya dengan dialog-dialog pewayangan. Maka secara langsung mereka sudah disuguhi dengan budaya jawa yang dipaparkan oleh mereka sendiri.

Keterlibatan guru terhadap bahan ajar yang tersistem memang harus sedemikian rupa juga memperlibatkan siswa, sehingga selain menyadari akan sistem pembelajarannya juga memahami karakter siswa. Character building inilah yang dapat dikembangkan melalui cara-cara pendekatan baik secara individual maupun kolektif.

Metamorfosa Wayang

Kisah hidup para legenda ada di dalam cerita wayang. Sarat filosofi dan petuah, wayang adalah bayangan kehidupan manusia. Hal ini membuat seni kuno tersebut seperti magnet bagi pecintanya.

Dan tanah Jawa menjadi habitat alamiah wayang klasik meski sastra India kerap pula mewarnai. Tapi tak bisa dipungkiri tradisi wayang terikat dengan sendi kehidupan sebagian besar masyarakat Jawa.

Karakter tokoh menjadi hidup ditangan dalang. Cerita yang dibawakan menggiring suasana menjadi khidmat. Dua sisi yang selalu kerap muncul dalam kisah pewayangan, menguak watak benar dan salah, baik dan jahat, juga cantik dan buruk rupa.

Wayang juga kental balutan mitos dan Hinduisme dengan mengadaptasi tema dari epos besar Ramayana, Mahabarata atau Punakawan. Misalnya. Dalang menampilkan cerita klasik Mahabarata yang sarat peristiwa diluar akal sehat manusia.

Memainkan sesuai pakem wayang klasik selama delapan jam, bukanlah masalah besar bagi dia. Sebab tak boleh ada kata tak selesai dalam pementasan.

Para sejarawan memperkirakan keberadaan wayang tercium sejak 1500 tahun sebelum Masehi. Ketika itu sebagian besar masyarakat masih memuja keagungan leluhur.

Pada mulanya adalah wayang beber yang sama sekali tak bergerak. Ini karya orisinal tanah Jawa. Tapi wayang berubah mengikuti zaman. Di sejumlah daerah di Indonesia pun muncul karakter wayang dengan ciri yang khas.

Wayang kulit terbuat dari kulit kerbau. Tak hanya dari kulit wayang juga terbuat dari kayu, seperti golek yang terukir dari hasil pahatan. Wayang telah menjelma menjadi akar hiburan rakyat. Cerimin seni kaum pinggiran yang menyebar untuk semua orang.

Bagong Subarjo, pedalang dari Yogyakarta. Penggiat wayang kartun ini sebagai bentuk cintanya kepada anak-anak. Awalnya Bagong menjalani hidup sebagai pelukis. Lalu idenya lahir untuk mengkartunkan karakter dan tokoh wayang.

Bagong memulai kisah pembuatan wayang kartun sejak 24 tahun silam. Ia tak mengubah tokoh dan karakter wayang klasik. Bagong hanya membumbui pernak-pernik agar muncul kejenakaan.

Hanya bermodalkan cat air ia berkreasi. Pembuatan memakan waktu sekitar dua pekan. Untuk membuat wayang kartun butuh biaya sekitar Rp 150 ribu.

Prosesi wayang membutuhkan ritual khusus sebagai pembuka. Tarian Ruwat Sentolo pun dihaturkan. Bagong dengan wayang kartunya mendobrak kekakuan wayang, mengubah kekauan menjadi luwes dan memudahkan adaptasi dengan seni lain.

Bagong mencoba mengulik kisah keseharian masayarakat dengan memainkan lakon Durmogati Ngelindur. Cerita di Astina, negeri para Pandawa hidup.

Liar dan bebas, Bagong seperti menunjukkan cara berontak yang kreatif. Lewat pagelaran wayang kartun Bagong ingin bicara hidup yang ruwet dengan jenaka.

Petuah Budaya Wayang Kulit

Dalam tokoh Arjuna mempunyai banyak nama, antara lain: Permadi, Pamade, Janaka, Palguna, Anaga, Panduputra, Barata, Baratasatama, Danasmara, Danajaya, Gudakesa, Ciptaning, Kritin, Kliti, Kariti, Kumbawali, Kumbang Ali-ali, Kundiputra, Kuruprawira, Kurusatama, Kurusreta, Mahabahu, Margana, Parantapa, dan Parta.
Arti nama Janaka atau Arjuna biasa digunakan untuk menyebutkan Arjuna setelah ia dewasa.
Arjuna adalah orang ketiga dari Pandawa lima, putra Dewi Kunti. Kata “Arjuna” dalam bahasa Sansekerta artinya putih atau bening, bersih. Dalam perwayangan, Arjuna merupakan tokoh popular selain karena kesaktiaanya, ketampanannya, juga karena banyak lakon wayang melibatkannya namanya.
Selain tampan, Arjuna sejak kecil gemar menuntut ilmu. Untuk menambah ilmunya, jika perlu Arjuna berkelana ke negeri lain. Ia merupakan murid yang paling disayangi Begawan Drona. Guru Besar yang bekerja bagi Kerajaan Astina itu bahkan pernah berjanji, tidak akan mengajarkan ilmunya kepada murid lain, selengkap yang diajarkan Arjuna. Putra Kunti ini juga dikenal sebagai ksatria tekun bertapa.
Sebagai salah seorang dari Pandawa, Arjuna mempunyai dua kakak dan dua orang adik. Abangnya yang sulung adalah Yudistira alias Puntadewa, kelak raja di Amarta dengan Prabu Darmakusuma. Sesudah itu, abangnya yang kedua, bernama Bima alias Harya Sena, Wijasena, Bratasena, atau Wrekudara. Adik kembar, bernama Pinten dan Tangsen, yang juga dikenal dengan nama Nakula dan Sadewa.
Walupun resminya Arjuna adalah putra raja Astina, namun sesungguhnya ia adalah putra Batara Endra. Hal ini disebabkan Prabu Pandu Dewanata sendiri tidak dapat membuahkan keturunan, karena kekeliruan yang dibuatnya ia terkena kutukan. Kutukan itu menyebutkan Pandu Dewanata akan mati seketika bilamana ia memadu kasih bersama istrinya. Sejak itulah Pandu tak berani tidur bersama istrinya.
Karena harus ada keturunan untuk melanjutkan dinasti yang memerintah Astina, Pandu mengizinkan istrinya memanggil dewa yang dikehendakinya guna membuahi Kunti. Kebetulan Kunti memiliki Aji Adityahredaya yang dipelajarinya dari Resi Druwasa. Ilmu ini menyebabkannya ia kuasa memanggil dewa mana saja. Dan, sebagai bagi ayah Arjuna, Dewi Kunti memanggil Batara Endra. Itulah sebabnya, Arjuna juga bernama Endratanaya atau Endraputra.
Namun sebagai manusia, Arjuna pun memiliki beberapa kekurangan. Ketampanan wajah dan ilmu tinggi yang dimilikinya beberapa kali disalahgunakan. Dalam tokoh perwayangan tokoh Arjuna menggambarkan karakter manusia yang berilmu tinggi tetapi kadang-kadang ragu dan bimbang dalam bertindak.
Istri Arjuna banyak. Ada 41 orang jumlahnya. Namun para istri Arjuna yang cukup terkenal antara nlain adalah Subrada, Larasati, Ulupi, Lestari, Manoara, Ratri, Gandawati, banowati, Manikhara, Citrahoyi, Wilutama, Supraba, dan Dresanala. Tiga nama yang disebut terakhir adalah bidadari.
Pada Wayang Golek Purwa Sunda, nama istri Arjuna lainnya Puspawati, Srimendang, Manikarya, Suyati, dan Partawati. Karena begitu banyak istri Arjuna, sampai-sampai Ki dalang mengatakan, istri Arjuna saketi kurang siji, yang artinya satu juta kurang satu. Jadi ada 999.999 orang.
Walaupun sudah demikian banyak istrinya, karena ketampanan dan sikapnya yang lemah lembut, Arjuna tetap saja dicintai banyak wanita. Antara lain oleh iparnya sendiri, yaitu Dewi Banowati menikah denan penguasa Kerajan Astina itu, putri cantik itu minta agar Arjunalah yang memandikan dan meriasnya. Dewi Banowati baru terlaksana menjadi isri Arjuna setelah janda, seusai Baratayuda.
Anak arjuna yang terkenal antara lain adalah Abimayu, Bambang Irawan, Bmabang Sumitra, Wisanggeni, Bratalaras, Wilugangga, Priyambada, Wijanarka, dan Caranggana. Sedangkan anak perempuannya, antara lain Dewi Pregiwa dan pregiwati.
Semua anak laki-laki gugur dalam baratayuda, tidak seorang pun yang hidup. Demikian pula salah seorang istrinya, Srikandi. Prajurit wanita yang berjasa karena mengalahkan Resi Bisma itu tewas dibunuh Aswatama pada saat tidur. Dewi Banowati, janda Prabu Anom Duryudana, yang hanya beberapa waktu menjadi istrinya juga mati dibunuh Aswatama.
Tentang banyaknya istri Arjuna, budayawan penulis buku-buku wayang Soenarto Timoer berpendapat bahwa itu hanya merupakan simbolisme. Sebagian besar istri Arjuna adalah putri pendeta, pertapa, yang merupakan guru Arjuna. Memperistri putri para resi yang menjadi gurunya, merupakan simbol dari keberhasilan Arjuna menyadap ilmu dari Guru.
Selain berkemapuan terbang, Arjuna juga banyak memiliki senjata pusaka. Sebagian besar senjata itu pemberian para dewa, diantaranya Pulanggeni, Pasopati, Kalanadah, Sarotama, Kalamisani. Keris Kyai Kalanadah dalam perwayangan dikatakan berasal dari taring Batara Kala, kemudian dihadiahkan kepada gatot kaca sebagai kancing geliung ketika putra Bima itu menikahi Dewi Pregiwa. Anak panah pustaka milik Arjuna juga cukup banyak, diantaranya adalah Pasopati, Sarutama, Ardadedali, dan Agnirastra
Trenggalek adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Pusat pemerintahan berada di Trenggalek kota. Kabupaten ini menempati wilayah seluas 1.205,22 km² yang dihuni oleh ±700.000 jiwa.[2] Letaknya di pesisir pantai selatan dan mempunyai batas wilayah sebelah utara dengan Kabupaten Ponorogo; Sebelah timur dengan Kabupaten Tulungagung; Sebelah selatan dengan pantai selatan; dan Sebelah barat dengan Kabupaten Pacitan.
Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu kabupaten yang ada di pesisir pantai selatan dan mempunyai batas wilayah:

Geografi

  • Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo;
  • Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Tulungagung;
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia; dan
  • Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pacitan
 

Pemerintahan

Kabupaten Trenggalek terdiri dari 14 kecamatan yaitu:
  1. Bendungan
  2. Dongko
  3. Durenan
  4. Gandusari
  5. Kampak
  6. Karangan
  7. Munjungan
  8. Panggul
  9. Pogalan
  10. Pule
  11. Suruh
  12. Trenggalek
  13. Tugu
  14. Watulimo

Komoditi

  • Pertanian : padi, jagung, singkong, kedelai, kacang.
  • Perkebunan: tebu, cengkeh, tembakau, durian, salak, manggis, rambutan, duku.
  • Industri: kecap, sirup, tapioka, pengeringan ikan, batik, makanan ringan, terpentin, rokok, sawmill, bahan bangunan, genteng, tahu dll.
 

Budaya dan Pariwisata

Trenggalek mempunyai banyak tempat peristirahatan dan tempat wisata yang mempunyai keindahan yang masih asli belum terubah oleh keadaan zaman, misalnya goa, pantai, dan pegunungan yang asri.
  1. Guo Lowo. Merupakan salah satu gua terbesar dan terpanjang di Asia Tenggara.
  2. Pantai Prigi. Pusat pariwisata dan perekonomian warga Kecamatan Watulimo. Terdapat tempat pelelangan ikan dan merupakan Pelabuhan Nusantara.
  3. Pantai Pasir Putih. Kurang lebih 2 km dari Pantai Prigi. Terkenal karena pasirnya yang putih bersih.
  4. Pantai Pelang. Pantai yang terletak di Kecamatan Panggul ini mempunyai keindahan yang luar biasa. Memiliki air terjun dan pulau kecil-kecil yang indah.
  5. Larung Sembonyo. Upacara adat pesisir yang selalu menarik perhatian wisatawan asing maupun domestik. Diadakan setahun sekali di Pantai Prigi.
  6. Pemandian Tapan. Terletak di Kecamatan Karangan, merupakan kolam pemandian alami yang berada di kawasan pegunungan yang airnya langsung dari sumber sehingga terjamin kebersihannya.
  7. Upacara Dam Bagong. Diadakan setiap tahun sekali dengan mempersembahkan kepala kerbau untuk di larung di Kali Bagong.
  8. Candi Brongkah. Merupakan candi yang berisi sejarah asal-usul Trenggalek.
  9. Alun-alun Kota. Sarana rekreasi keluarga yang selalu ramai dikunjungi warga Trenggalek, terutama pada malam minggu.
  10. Tari Turonggo Yakso. Merupakan tarian khas Kabupaten Trenggalek.

Sejarah

Salah satu tokoh terkenal di Trenggalek adalah Menak Sopal, salah seorang bupati atau pengusasa Trenggalek. keterangan resmi mengenai Menak Sopal belum banyak ditulis, akan tetapi situs berupa makam dapat dijumpai di dusun Bagong, kelurahan Ngantru, kecamatan Trenggalek. Menak Sopal dikenal sebagai pahlawan bagi kaum tani di Trenggalek, usahanya untuk membangun sebuah dam atau waduk beserta saluran irigasi yang menyertainya berkembang menjadi sebuah legenda yang mengiringi tradisi sedekah bumi yang sampai saat ini dilaksanakan oleh kaum tani di kelurahan Ngantru pada bulan Sela. konon, saat membangun waduk tersebut, Menak Sopal dan pengikutnya mengalami kesulitan karena selalu saja bangunan yang membendung kali Bagong itu jebol. setelah bertapa beberapa hari akhirnya, Menak Sopal mengetahui jika penyebab jebolnya bangunan waduk tersebut karena ulah siluman bajul putih yang menguasai sungai tersebut. setelah bertemu dengan siluman bajul putih, akhirnya sang siluman bersedia untuk tidak mengganggu pekerjaan besar Menak Sopal dengan meminta tumbal seekor gajah yang berkulit putih pula. singkat cerita dengan sedikit tipu muslihat, Menak Sopal berhasil menyediakan tumbal Gajah Putih kepada Bajul Putih. Untuk diketahui pemilik Gajah Putih di daerah Wengker hanya ada satu orang yaitu seorang janda di daerah Ponorogo.

Sumber WIKIWEDIA
 

Sejarah Singkat Trenggalek

Pendopo Kab.Trenggalek
Di Kutip dari http://trenggalekkab.go.id. kawasan Trenggalek telah dihuni selama
ribuan tahun, sejak jaman pra-sejarah, dibuktikan dengan ditemukannya artifak jaman 
batu besar seperti : Menhir, Mortar, Batu Saji, Batu Dakon, Palinggih Batu, Lumpang 
Batu dan lain-lain yang tersebar di daerah-daerah yang terpisah.


Berdasar data tersebut diketahui jejak nenek moyang yang tersebar dari Pacitan menuju
ke Wajak Tulungagung dengan jalur-jalur sebagai berikut :


a) Dari Pacitan menuju Wajak melalui Panggul, Dongko, Pule, Karangan dan menyusuri 

sungai Ngasinan menuju Wajak Tulungagung;


b) Dari Pacitan menuju Wajak melalui Ngerdani, Kampak, Gandusari dan menuju Wajak 

Tulungagung;


c) Dari Pacitan menuju Wajak dengan menyusuri Pantai Selatan Panggul, Munjungan, 

Prigi dan akhirnya menuju ke Wajak Tulungagung.


Menurut HR VAN KEERKEREN, Homo Wajakensis (manusia purba wajak) (mencari-jejak-
manusia-wajak.html) hidup pada masa plestosinatas, sedangkan peninggalan-peninggalan 
manusia purba Pacitan berkisar antara 8.000 hingga 23.000 tahun yang lalu. Sehingga, 
disimpulkan bahwa pada jaman itulah Kabupaten Trenggalek dihuni oleh manusia.


Walaupun banyak ditemukan peninggalan manusia purba, untuk menentukan kapan 
Kabupaten Trenggalek terbentuk belum cukup kuat karena artifak-artifak tersebut tidak
ditemukan tulisan. Baru setelah ditemukannya prasasti Kamsyaka atau tahun 929 M, 
dapat diketahui bahwa Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah-daerah yang 
mendapat hak otonomi / swatantra, diantaranya Perdikan Kampak berbatasan dengan 
Samudra Indonesia di sebelah Selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul, 
Munjungan dan Prigi. Disamping itu, disinggung pula daerah Dawuhan dimana saat ini 
daerah Dawuhan tersebut juga termasuk wilayah Kabupaten Trenggalek. Pada jaman itu
 tulisan juga sudah mulai dikenal.


Setelah ditemukannya Prasasti Kamulan yang dibuat oleh Raja Sri Sarweswara Triwi-
kramataranindita Srengga Lancana Dikwijayatunggadewa atau lebih dikenal dengan 
sebutan Kertajaya (Raja Kediri) yang juga bertuliskan hari, tanggal, bulan, dan tahun pem-
buatannya, maka Panitia Penggali Sejarah menyimpulkan bahwa hari, tanggal, bulan 
dan tahun pada prasasti tersebut adalah Hari Jadi Kabupaten Trenggalek.


Sejarah Singkat Pemerintahan :


Seperti halnya daerah-daerah lain, di jaman itu Kabupaten Trenggalek juga pernah me-
ngalami perubahan wilayah kerja. Beberapa catatan tentang perubahan tersebut adalah
sebagai berikut :


a) Dengan adanya Perjanjian Gianti tahun 1755, Kerajaan Mataram terpecah menjadi 

dua, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Wilayah Kabupaten 

Trenggalek seperti didalam bentuknya yang sekarang ini, kecuali Panggul dan 

Munjungan, masuk ke dalam wilayah kekuasaan Bupati Ponorogo yang berada di 

bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Sedangkan Panggul dan Munjungan masuk

wilayah kekuasaan Bupati Pacitan yang berada di bawah kekuasaan Kasultanan 

Yogyakarta.


b) Pada tahun 1812, dengan berkuasanya Inggris di Pulau Jawa (Periode Raffles 

1812-1816) Pacitan (termasuk didalamnya Panggul dan Munjungan) berada di bawah 

kekuasaan Inggris dan pada tahun 1916 dengan berkuasanya lagi Belanda di Pulau 

Jawa, Pacitan diserahkan oleh Inggris kepada Belanda termasuk juga Panggul 

dan Munjungan.


c) Pada tahun 1830 setelah selesainya perang Diponegoro, wilayah Kabupaten Treng-

galek, tidak termasuk Panggul dan Munjungan, yang semula berada dalam wilayah 

kekuasaan Bupati ponorogo dan Kasunanan Surakarta masuk di bawah kekuasaan 

Belanda. Dan, pada jaman itulah Kabupaten Trenggalek termasuk Panggul dan Mun-

jungan memperoleh bentuknya yang nyata sebagai wilayah administrasi pemerintahan

Kabupaten versi Pemerintah Hindia Belanda sampai disaat dihapuskannya pada 

tahun 1923.



Alasan atau pertimbangan dihapuskannya Kabupaten Trenggalek dari administrasi 

Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu secara pasti tidak dapat diketahui. Namun 

diperkirakan mungkin secara ekonomi Trenggalek tidak menguntungkan bagi kepen-

tingan pemerintah kolonial Belanda.



Wilayahnya dipecah menjadi dua bagian, yakni wilayah kerja Pembantu Bupati di 

Panggul masuk Kabupaten Pacitan dan selebihnya wilayah Pembantu Bupati Treng-

galek, sedangkan Karangan dan Kampak masuk wilayah Kabupaten Tulungagung

sampai dengan pertengahan tahun 1950.


d)   Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950, Trenggalek menemukan 

bentuknya kembali sebagai suatu daerah Kabupaten di dalam Tata Administrasi Pe-

merintah Republik Indonesia. Saat yang bersejarah itu tepatnya jatuh pada seorang 

Pimpinan Pemerintahan (acting Bupati) dan seterusnya berlangsung hingga sekarang. 

Seorang Bupati pada masa Pemerintahan Hindia Belanda yang terkenal sangat ber-

wibawa dan arif bijaksana adalah MANGOEN NEGORO II yang terkenal dengan 

sebutan KANJENG JIMAT yang makamnya terletak di Desa Ngulankulon Kecamatan 

Pogalan. Dan untuk menghormati Beliau, nama "KANJENG JIMAT" diabadikan 

sebagai salah satu jalan di Kabupaten Trenggalek.

Kebudayaan dan Kesenian JAWA TIMUR

 Sejarah Kesenian Jawa Timur
1) Jaman Peralihan

Pada seni bangunannya sudah meperlihatkan tanda – tanda gaya seni jawa timur seperti tampak pada Candi Belahan yaitu pada perubahan kaki candi yang bertingkat dan atapnya yang makin tinggi. Kemudian pada seni patungnya dudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India, tetapi sudah diterapkan proposisi Indonesia seperti pada patung Airlangga

2) Jaman Singasari

Pada seni bangunannya sudah benar – benar meperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi maupun pada hiasannya, contohnya: candi singosari, candi kidal, dan candi jago. Seni patungnya bergaya Klasisistis yang bertolak dari gaya seni Jawa Tengah, hanya seni patung singosari lebih lebih halus pahatannya dan lebih kaya dengan hiasan contohnya patung Prajnaparamita, Bhairawa dan Ganesha.

3) Jaman Majapahit

Candi – candi Majapahit sebagian besar sudah tidak utuh lagi karena terbuat dari batu bata, perbedaan dengan candi di Jawa Tengah yang terbuat dari batu kali / andhesit peninggalan candinya: kelompok candi Penataran, Candi Bajangratu, candi Surowono, candi Triwulan dll

Budaya dan adat istiadat

Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan ini. Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini. Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta.

Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.
Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.


Bahasa

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang berlaku secara nasional, namun demikian Bahasa Jawa dituturkan oleh sebagian besar Suku Jawa. Bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Timur memiliki beberapa dialek/logat. Di daerah Mataraman (eks-Karesidenan Madiun dan Kediri), Bahasa Jawa yang dituturkan hampir sama dengan Bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Solo-an). Di daerah pesisir utara bagian barat (Tuban dan Bojonegoro), dialek Bahasa Jawa yang dituturkan mirip dengan yang dituturkan di daerah Blora-Rembang di Jawa Tengah.  Dialek Bahasa Jawa di bagian tengah dan timur dikenal dengan Bahasa Jawa Timuran, yang dianggap bukan Bahasa Jawa baku. Ciri khas Bahasa Jawa Timuran adalah egaliter, blak-blakan, dan seringkali mengabaikan tingkatan bahasa layaknya Bahasa Jawa Baku, sehingga bahasa ini terkesan kasar. Namun demikian, penutur bahasa ini dikenal cukup fanatik dan bangga dengan bahasanya, bahkan merasa lebih akrab. Bahasa Jawa Dialek Surabaya dikenal dengan Boso Suroboyoan. Dialek Bahasa Jawa di Malang umumnya hampir sama dengan Dialek Surabaya, hanya saja ada beberapa kata yang diucapkan terbalik, misalnya mobil diucapkan libom, dan polisi diucapkan silup; ini dikenal sebagai Boso Walikan. Saat ini Bahasa Jawa merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal yang diajarkan di sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Bahasa Madura dituturkan oleh Suku Madura di Madura maupun dimanapun mereka tinggal. Bahasa Madura juga dikenal tingkatan bahasa seperti halnya Bahasa Jawa, yaitu enja-iya (bahasa kasar), engghi-enten (bahasa tengahan), dan engghi-bhunten (bahasa halus). Dialek Sumenep dipandang sebagai dialek yang paling halus, sehingga dijadikan bahasa standar yang diajarkan di sekolah. Di daerah Tapal Kuda, sebagian penduduk menuturkan dalam dua bahasa: Bahasa Jawa dan Bahasa Madura. Kawasan kepulauan di sebelah timur Pulau Madura menggunakan Bahasa Madura dengan dialek tersendiri, bahkan dalam beberapa hal tidak dimengerti oleh penutur Bahasa Madura di Pulau Madura (mutually unintellegible).
Suku Osing di Banyuwangi menuturkan Bahasa Osing. Bahasa Tengger, bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Suku Tengger, dianggap lebih dekat dengan Bahasa Jawa Kuna.


Kesenian dan Budaya Jawa Timur

Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, dan umumnya dibuka dengan Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya semakin dikalahkan dengan modernisasi.

Reog yang sempat diklaim sebagai tarian dari Malaysia merupakan kesenian khas Ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, reog kini juga menjadi ikon kesenian Jawa Timur. Pementasan reog disertai dengan jaran kepang (kuda lumping) yang disertai unsur-unsur gaib. Seni terkenal Jawa Timur lainnya antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timuran, topeng dalang di Madura, dan besutan. Di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti ketoprak dan wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur antara lain Damarwulan dan Angling Darma.

Seni tari tradisional di Jawa Timur secara umum dapat dikelompokkan dalam gaya Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, tarian Jawa gaya Osing, dan trian gaya Madura. Seni tari klasik antara lain tari gambyong, tari srimpi, tari bondan, dan kelana.

a.    Seni Tari

Tari Remong, sebuah tarian dari Surabaya yang melambangkan jiwa, kepahlawanan. Ditarikan pada waktu menyambut para tamu. Reog Ponorogo, merupakan tari daerah Jawa Timur yang menunjukkan keperkasaan, kejantanan dan kegagahan.

b.    Musik

Musik tradisional Jawa Timur hampir sama dengan musik gamelan Jawa Tengah seperti Macam laras (tangga nada) yang digunakan yaitu gamelan berlaras pelog dan berlaras slendro. Nama-nama gamelan yang ada misalnya ; gamelan kodok ngorek, gamelan munggang, gamelan sekaten, dan gamelan gede.
Kini gamelan dipergunakan untuk mengiringi bermacam acara, seperti; mengiringi pagelaran wayang kulit, wayang orang, ketoprak, tari-tarian, upacara sekaten, perkawinan, khitanan, keagaman, dan bahkan kenegaraan.Di Madura musik gamelan yang ada disebut Gamelan Sandur.

c.    Rumah adat

Bentuk bangunan Jawa Timur bagian barat (seperti di Ngawi, Madiun, Magetan, dan Ponorogo) umumnya mirip dengan bentuk bangunan Jawa Tengahan (Surakarta). Bangunan khas Jawa Timur umumnya memiliki bentuk joglo , bentuk limasan (dara gepak), bentuk srontongan (empyak setangkep).Masa kolonialisme Hindia-Belanda juga meninggalkan sejumlah bangunan kuno. Kota-kota di Jawa Timur banyak terdapat bangunan yang didirikan pada era kolonial, terutama di Surabaya dan Malang.
Jawa memiliki berbagai keindahan budaya dan seni yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakatnya. berbagai seni tradisi dan budaya tertuang dalam karya karya pusaka masyarakat jawa seperti batik, rumah joglo, keris dan gamelan. karya pusaka seni dan budaya jawa seperti diatas sangat populer dan mendapatkan tempatnya sendiri di hati msyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke yogyakarta. Menginginkan suasana jawa dengan rumah joglonya dapat dilakukan dengan berwisata adat dan budaya di yogyakarta. sekarang ini telah muncul banyak pilihan berwisata yang menawarkan sifat dan budaya lokal yang tercover dalam desa wisata. Anda tentunya akan dapat menikmati suasana seperti masyarakat jawa sesungguhnya karenan memang desa desawisata telah dipadukan dengan kearifan lokal yang patut anda kunjungi. Selamat berwisata ke jogja…

d.    Pakaian adat

Pakaian adat jawa timur ini disebut mantenan. pakaian ini sering digunakan saat perkawinan d masyarakat magetan jawa timur

e.    Kerajinan tangan

Macam-macam produk unggulan kerajinan anyaman bambu berupa : caping, topi, baki, kap lampu, tempat tissue, tempat buah, tempat koran serta macam-macam souvenir dari bambu lainnya. Sentra industri ini terletak di Desa Ringinagung +- 1,5 arah barat daya kota Magetan.

f.    Perkawinan

Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah kematian.

      g.    Festival Bandeng

Festival Bandeng selalu digelar setiap tahun. Namun, ada yang berbeda dalam perayaan tahun ini. Kegiatan tersebut tidak dibarengi dengan acara lelang (menjual dengan harga tawar yang paling tinggi) bandeng kawak yang sudah menjadi tradisi masyarakat Sidoarjo.
Kurang biaya dan bencana lumpur Sidorjo menjadi penyebab lelang itu dihilangkan. Walaupun tidak ada lelang, kegiatan tersebut diharapkan bisa mendorong petani untuk tetap membudidayakan ikan bandeng dengan bobot tak wajar alias raksasa.
Pemkab Sidoarjo sangat memperhatikan pelestarian bandeng karena ikan itu adalah ikon utama Kabupaten Sidoarjo.
Festival yang juga bertujuan melestarikan budaya tradisional tahunan masyarakat Sidoarjo itu diikuti empat peserta petambak di Kabupaten Sidoarjo. Peserta berlomba menunjukkan hasil tambak berupa bandeng yang paling sehat dan terbaik.

       h.  Upacara Kasodo

Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo ini merupakan ritual yang dilakukan setahun sekali untuk menghormati Gunung Brahma (Bromo) yang dianggap suci oleh penduduk suku Tengger.
Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara ini diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

        i.  Parikan

Ada tiga jenis parikan di dalam ludruk pada saat bedayan (bagian awal permainan ludruk). Ketiga jenis parikan tersebut adalah lamba (parikan panjang yang berisi pesan), kecrehan (parikan pendek yang kadang-kadang berfungsi menggojlok orang) dan dangdutan (pantun yang bisa berisi kisah-kisah kocak).

       j.  Ketoprak

Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan.
Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang.

       k.  Reog Ponorogo

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur, khususnya kota Ponorogo. Tak hanya topeng kepala singa saja yang menjadi perangkat wajib kesenian ini. Tapi juga sosok warok dan gemblak yang menjadi bagian dari kesenian Reog.
Di Indonesia, Reog adalah salah satu budaya daerah yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan.
Seni Reog Ponorogo ini terdiri dari 2 sampai 3 tarian pembuka. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.
Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisional, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang. Eits, tarian ini berbeda dengan tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar.
Adegan terakhir adalah singa barong. Seorang penari memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak.

        l.  Karapan Sapi

Karapan sapi adalah pacuan sapi khas dari Pulau Madura. Dengan menarik sebentuk kereta, dua ekor sapi berlomba dengan diiringi oleh gamelan Madura yang disebut saronen.
Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain.
Jalur pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh sampai lima belas detik. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.

Dalang Wayang Kulit Jawa Timur

A Darmoko, dalang, Gresik. Ttl; 1953. SLTA. Swasta. Klotok, Kec. Balungpanggang, Gresik. 

AB. Sutopo, dalang, kota Kediri. Ttl; 9 Agustus 1942. Jl. Penanggungan 73 Desa Bandar Lor, Kec. Mojoroto, Kota Kediri. 

Abdul Azis, Ki, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pandaan, 10 januari 1945. SDN. Watuagung, Prigen, Pasuruan.

Agung Supriyono, dalang, Surabaya. Ttl; Lamongan, 8 Juni 1968. SD. Rungkut Lor V/1 Surabaya

Agung Suwiryo, dalang, Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 6 September 1945. SLTA. Pertamina UPPDN V Surabaya. Gagangpanjang, Kec. Tanggulangin, Sidoarjo. 031.88850721 (???)

Akup. Seniman Pedalangan, Lamongan. Ttl; Lamongan, 1 anuari 1941. SMP. Sejak 1979 dalang Jawa Timuran, membuat sendiri wayang kulit, membuat dan memperbaiki kendang, sebagai peniti laras. Juara I Lomba Dalang Lamongan. Organisasi Seni Karawitan Ngesti Budaya, Organisasi Seni Pedalangan Sastro Pandowo. Ds. Tambakrigadung, Kec. Tikung, Lamongan. 

Amerto Aji, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 28 Februari1968. SMP. Ds. Bejijong, Kec. Trowulan, Mojokerto. 

Anang Prayudi, dalang, kota Madiun. Ttl; Blitar 14 Juni 1964. SMA. Jl. Diponegoro 65 Madiun. 0351.64277

Aruman, dalang, Malang. Ttl; 1958. SD. Swasta. Wonokerso, kec. Pakisaji, Malang. 

Asmari Eko Carito, dalang Malang. Ttl; Malang 22 Februari 1958. SD. Petungsewu, Kec. Wagir, Kab. Malang. 

Asri Budiman, dalang, Jombang. 1968, SMP. Plandaan, Jombang

Bambang Agus Sutrisno, Ki, dalang, kota Malang. Ttl; Tulungagung, 3 Agustus 1965. SMA. Jl. Ksatrian Dalam 27 Kel. Ksatrian, Kec. Blimbing, Kota Malang. 0341.327228

Bambang Asmunin, dalang Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 8 Agustus 1969. STM. Wiraswasta. Desa Karangbong, Kec. Gedangan, Sidoarjo. 

Bambang S, dalang, Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 15 Juni 1948. SMP. Juara lomba dalang berkali-kali. Ds Jogosatru, Kec. Sukodono RT 02/01, Sidoarjo. 

Bambang Sugiyo. Dalang, Sidoarjo. Ttl: Sidoarjo, 1 Januari 1948. SMP. Menekuni pedalangan sejak 1969, mengkader dalang-dalang muda, penata garap dan pembinaan calon peserta festival pedalangan. Juara 1 Festival Pedalangan Kabupaten Sidoarjo (1983), Juara Harapan Lomba Dalang Jatim (1994), Juara Umum Festival Pedalangan Jatim (1995). Pepadi Sidoarjo, Parpuja. Ds. Jogosatru RT 02/RW 01. Sukodono, Sidoarjo. 031.8970167. 

Bambang Sakri, Drs. Ki, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pacitan, 6 Juni 1930. Pensiunan PNS. Jl. Hasanudin XIII-22 Pasuruan.Telp. 0343.428264.

Bandi. Dalang, Madiun. Ttl: Madiun, 12 Maret 1956. SMP. Penggiat seni, mencetak dalang muda, waranggana muda. Festival Pedalangan, pekan wayang Jatim. Sanggar Seni Pedalangan Kab. Madiun (Sang Pawidha). Ds. Bagi RT 12/02, Nglames, Kab. Madiun. 

Bejo, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1942. Swasta. Wonosari. Ds. Wonosari, Malang. 

Bekti Budoyo, dalang, kota Kediri. Desa Betet, Kec. Pesantren, Kota Kediri. 

Biranto, dalang, Surabaya. Ttl; Ngawi, 16 Juni 1952. SMP. Swasta. Jl. Rungkut Lor Gg X/79 Surabaya. 

Budi utomo, dalang, Malang. Ttl; Malang, 16 Juli 1955. SLTA. Wiraswasta. Jl. Watudamar 20 Girimoyo, Karangploso, Malang. 

Budiono, dalang, Malang. Ttl; Blitar, 25 Agutsus 1942. SMP. Swasta. Jl. Monginsidi RT 04/02, Mangunrejo, Kepanjen, Malang. 

Carito, dalang Malang. Ttl; Malang, 1964. SMP. Wiraswasta. Wonoagung, Tirtoyudo, Malang. 

Cung Suparno, dalang, kota Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 5 Juli 1951. SD. Juara I Lomba Dalang Kab. Mojokerto. Jl. Raya Meri 392 Mojokerto.

D. Gondo Miguno, dalang, Surabaya. Ttl; Malang, 31 Desember 1947. SMP. PT Astek Persero. Jl. Dukuh Kupang Barat XXIV-2 Surabaya. 

Darmo Suwito, dalang, Surabaya. Ttl; Blora 1 Juli 1924. SD. Margo Rukun VIII/7 Surabaya.

Daman, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1940. Swasta. Balesari. Malang. 

Dasim Djatmiko, dalang, kota Malang. Ttl; 1953. SMP. Wiraswasta. Jl. Acordion, Kel. Tunggul Wulung, Kec. Lowokwaru, kota Malang. 

Djamuno, dalang, kota Madiun. Ttl; Madiun, 1 Juli 1946. SMP. Swasta. Jl. Pantuk 15.B. Madiun. 

Djoko Adji, dalang, Malang. Ttl; 1957. SD. PNS. Kebonagung, kec. Pakisasji, Malang. 

Djumani, dalang, Blitar. 1966. SMP. Pengrawit. Balapan Sukorejo 4 RT 30 Blitar. 

Djupriwidayat, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; 2 Februari 1952. STN. Kejapanan RT 02/12 Gempol, Pasuruan. 

Dwidjo Sutarno, dalang Sidoarjo. Ttl; Nganjuk, 4 Juni 1943. SLTA. PNS. Tebel Timur. Jl. Mustika II-4 RT 06/06, Kec. Buduran, Sidoarjo. 

Dwiyono, Drs. dalang, Malang. Ttl; Malang, 12 Juli 1961. Sarjana. Guru SD. Desa Banturejo, Kec. Ngantang, Malang. 

Edi, dalang, Malang. Ttl; Malang. Swasta. Rekesan. Malang.

Eko Purnomo (Budi Sumadyo), dalang, Kab. Probolinggo. Ttl; Klaten, 12 Mei 1962. Sarjana Muda ASKI. PNS. Jl. Raya Panglima Sudirman VII/29, kelurahan Jati, Kec. Mayangan, Kota Probolinggo. 0335.20981. 

Eko Prihatin, (wanita) dalang, kota Kediri. Ttl; 12 Juli 1950. Dalang Wayang Kulit, Wayang Purwo. Desa Bangsal, Kec. Pesantren, kota Kediri. 

Fajeri, dalang, Gresik. Ttl; Gresik, tahun 1956. SLTP. Swasta. Ds. Suci, Kec. Manyar, Gresik. 

Gatot Hariono, dalang, Lumajang. Ttl; Semboro, Jember, 1963. SD. Tani. Wotgalih, Yosowilangun, Lumajang. 

Gatot Sutrisno (Ir), dalang, Madiun.ttl; Madiun, 1939. Sarjana. Karyawan RRI. Jl. Kapt. Saputro 49 Madiun. 

Gatot Tri Putro, dalang, Lumajang. Ttl; Lumajang, 10 November 1955. SD. Wiraswasta. Dawuhan Lor, Kec. Sukodono, Lumajang. 

Genit Santoso, Dalang dan Campursari. Trenggalek. Ttl; Trenggalek, 1957. Ketua Pepadi Kec. Dongko, ketua grup Campursari Bina Musika, ketua Karawitan Kec. Dongko. Karya CD Karawitan, pengembangan campursari. 10 Penyaji Terbaik Festival Dalang (3 kali), Penata Musik Festival Campursari. Desa Dongko, Kec. Dongko, Trenggalek. 0355.611019. 

Gondho Gunardi, dalang, kota Kediri. RT 07/03, Desa Pesantren, kota Kediri. 

Gondho Sutrisno, dalang, kota Kediri. Ttl; 18 Agustus 1942. Desa Banaran. Jln. Banaran 16-A, Kec. Pesantren, kota Kediri. 

Gondo Buwono (RM), dalang, Malang. Ttl; Malang. SLTA. Sambigede, Karangkates, Malang. 

Gondo Munanjar, dalang, Jombang. 1945, SMP. Puri Semanding, Plandaan, Jombang

Gondo Sudiyono, dalang, kota Madiun. Jl. Sri Sedono 27 RT 06/01 Kanigoro, Madiun. 

Gondo Wasito, dalang, Blitar. 1963. SMP. Jual susu. Pekunden, Kec. Sukorejo, Blitar. 

Gunawan (R), dalang Wayang Purwo, kota Kediri. Ttl; 8 November 1942. Desa Bangsal, Kec. Pesantren, kota Kediri.
Gunawan Takim, dalang, Malang. Ttl; Malang 1 Agustus 1938. desa Kebobang, Malang. 

Guno Paito, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1946. SD. Swasta. Arjowinangun, Kec. Kalipare, Malang. 

Guno Suwito, dalang, Jombang. Ttl; Jombang, 1941. Daditunggal, Ploso, Jombang.

Hadi Siswoko, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1 Januari 1952. SLTA. Swasta (KUD). Arjosari, Kalipare, Malang. 

Hadi Suroto Purbo Carito, dalang, Lumajang. Ttl; Kudus, 21 April 1945. SGA. Wiraswasta. Juara I Lomba Wayang Suluh Jatim (1971). Jl. Imam Bonjol 11.A Lumajang. 

Hardjono, dalang, kota Madiun. Ttl; Tulungagung, 1947. SMP. Swasta. Jl. Cempedak 3 Madiun. 

Hartono, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1948. SMP. Tani. Ngenep, kec. Karangploso, Malang. 

Haryo Widyoseno Sutarno, dalang, Surabaya. Ttl; Surabaya, 12 September 1977. Karyawan Dinas P dan K Jatim. Jl. Dukuh Kupang XIV10 Surabaya. 031.5672141. 

Hermawan Abu Amin, H, dalang, Malang. Ttl; Nganjuk, 5 Mei 1941. SMP. Purnawirawan ABRI. Pepabri Cabang Lawang. Jl. Sumberwaras Timor 100.A, Lawang. 0341.97227. 

Imam Subagyo, dalang, kota Kediri. Ttl; 15 Juli 1957. Desa Mrican, Kec. Mojoroto, kota Kediri.
Ismani, dalang, Blitar. 1973. SMP. Dagang. Kel. Pekuncen, Kec. Sukorejo, Blitar. 

Joko Suparno (R), dalang, Madiun. Ttl; Madiun, 1948. SMA. Karyawan Pengadilan. Jl. Elang II-17 Madiun. 

Juber, Ki, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pasuruan, 1932. SDN. Perangkat desa. Tambakrejo, Kraton, Pasuruan. 

Jumini, dalang, Malang. Ttl; Malang, 15 Januari 1950. SMP. Swasta. Arjosari, Kalipare, Malang.

Kabid Gondo, dalang, Jombang. Ttl; Jombang, 1966. SMP. Ds. Dukuharum, Megaluh, Jombang

Kacung Sujiari, Ki, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Malang, 1950. Pemkab Pasuruan. Jl. Hasanudin, Pasuruan.Telp. 0343.415669. 

Kadis, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1 Januari 1938. Swasta. Jl. Bonsari 1, Desa Kebobang, Malang..

Kadri, dalang, Surabaya. Ttl; Pacitan, 3 Juni 1963. SD. Swasta. Bank ANK. Ngagel Wasana VI/1 Surabaya

Kanthong, dalang, kota Malang. Ttl; Malang, 1950. SMP. Swasta. Kel Sukun, kec. Sukun, kota Malang. 
 
Karimun, dalang, Malang. Ttl; 1922. SD. Karangpandan, Pakisaji, Malang. 

Karis, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pasuruan, 30 Juni 1959. SD. Tani. RT 02/07, Pakukerto, Pasuruan. 

Kartono, dalang, Mojokerto. Ttl; Pasuruan, 12 Desember 1953. SMP. Juara I Lomba Dalang Mojokerto. Ds. Centong, Kec. Gondang, Mojokerto. 

Kasiran Gondo Nurseto, dalang, Malang. Ttl; 20 Mei 1946. Perangkat Desa. Dusun Ngrejo, ….. Malang.
Kasnar, dalang, kota Kediri. Ttl; 7 Mei 1940. desa Gayam, Kec. Mojoroto, Kediri. 

Kohir Wibisono, dalang Jawa Timuran, Kab. Pasuruan. Ttl; Sidoarjo, 1942. SR. Swasta. Ds. Kerosari, Kec. Purwosari, Pasuruan. 

Kosim Hadisusilo, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Sidoarjo, 30 Juni 1937. SGB. Swasta. Dusun Turirejo 20 Cangkringrejo, Kec. Beji, kota Batu. 

Krisno Widodo (Nunung), dalang, Kota Kediri. Ttl; 21 Juni 1949. Diploma II. Guru SMP BPK Pocanan. Ds. Singonegaran, Kediri. 

Kusnen, dalang, Malang. Ttl; Malang, 20 November 1940. SD. Penjahit. RT 08/01 Majangtengah, Dampit, Malang. 

Kusno, dalang, kota Blitar. Ttl; 1954. SMP. Penjaga SD. Pengendang Wayang Kulit. Dukuh anjungsari, kel Pekunden, Kec. Sukorejo, Madiun. 

Kusno, dalang, Gresik. Ttl; Gresik, 1950. SLTP. Swasta. Ds. Masangan, Kec. Bungah, Gresik. 

Kusno, dalang, Malang. Ttl; Malang, 11 Agustus 1942. Tani. Sumber Tempus, RT 01/01, Malang.

M. Hardiono, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1955. SMP. Wirawasta. Bantur, Bandungrejo, kec. Bantur, Malang. 

M. Suroto, dalang, Kab. Probolinggo. Ttl; Sleman, 2 januari 1945. Skopma. PNS. Rt 16/07 Ds. Sukodadi, Kec. Paiton, Probolinggo. 

Madarum, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1941. Tani. Ngrejo, Ds, Kluwut. 

Madenan, dalang, Jombang. 1943, SD. Kedungotok, Tembelang, Jombang.

Mahmudi, dalang, Malang. Ttl; Malang, 11 April 1961. Swasta. Bangelan……. Malang. 

Makali, dalang, Malang. Ttl; Malang 2 Februari 1942. SD. Jl. Diponegoro, Mangunrejo, Kepanjen, Malang.
Mardjuki, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pandaan, 1939. SR. 

Margono, dalang, Madiun. Ds. Bagi Kec. Madiun, Madiun. (SLTPN VI Madiun)

Marnoto, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1 Agustus 1957. SMP. Pegawi Telkom. Desa Pandanlandung, Kec. Wagir, Malang. 

Marijan, dalang, Malang. Ttl; SD. Swasta. Arjosari, Kalipare, Malang. 

Matadi, dalang, Malang. Ttl; Malang 1 Maret 1939. SMP. Swasta. Jl. Krajan, Sengguruh, Kepanjen, Malang. 

Matius Asmoro, dalang, Jombang. Ttl; 1963. SMP. Grobogan, Mojowarno, Jombang.

Mindarto, dalang, Malang. Ttl; Blitar 17 Maret 1948. SLTP. Karyawan PT. Selecta. Gondang Tulungrejo, Bumiaji, kota Batu. 

Moch Samino (H), dalang, Surabaya. Ttl; -. Jual beli perlengkapan gamelan. Nginden Kota I-4 Surabaya. 031.5617511

Moh Rejo BA, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 31 Juli 1954. Sarmud IKIP. Dinas P dan K Kab. Mojokerto. Ds. Pucuk, Kec. Dawarblandong, Mojokerto. 

Mokhid, dalang, kota Malang. Ttl; Malang, 1938. SD. Buruh tani. Kel. Lesanpuro, Kec. Kedungkandang, Kota Malang

Misbantoro, dalang, kota Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 4 Januari 1944. SMA. Swasta. Jl. Taman Siswa 27 Mojokerto. 0321.26202

Misdi, dalang, kota Blitar. Ttl; tahun 1952. SMP. Pelatih karawitan. SMTK dan Seminari Garun Blitar. Ngadirejo, Kec. Kepanjen Kidul, Blitar. 

Miskat, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 1941. SD. Tukang Batu. Ds, Sumberagung, Kec. Jatirejo, Mojokerto

Misto, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pasuruan, 1934. Tani. Genuan, Sumberdawesari, Grati, Pasuruan. 

Miswanto. Dalang, campursari, karawitan. Trenggalek. Ttl; Trenggalek, 3 Mei 1954. STKW. Guru Seni. Penata musik campursari, ketua Pepadi Kec. Pule, penata musik tari Jaranan, penata karawitan tari, Wakil Ketua Campursari Slendro. Ds. Pule, RT 02/04, Kec. Pule, Trenggalek. 

Moch Naim, dalang Malang. Ttl; Malang. SLTA. Karangkates, Malang. 

Moedjoko, dalang, Blitar. 1953. SLTP. Dekrasi, pahat. Jl. Madura 4 Sanan Wetan, Blitar. 

Mudiyatno, dalang Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 31 Januari 1958. SMP. Kedungsumur, Kec. Candi, Sidoarjo. 

Mudjiadi Jaya Wisastra, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 21 April 1941. SD. Wiraswasta. Ds, Wunut, Kec. Bangsal, Mojokerto

Mudjiono, dalang, Malang. Ttl; Blitar, 4 Maret 1953. SLTA. Kepala Pegadaian Cabang Dampit. Jl. Gunungjati 100, kec. Dampit, Malang. 

Mujiaman, dalang, kota Malang. Ttl; Malang, 1953. SMP. Penjaga SD. Kel. Sukun, Malang.
Mulyadi, dalang, kota Kediri. Ttl; Kediri, 16 Februari 1947. SPG. Guru SDN. Ds. Ngadirejo, Kec. Kota, Kediri. 

Mulyadi, dalang, Malang. Ttl; Malang, 6 Juni 1951. SD. Tani. Tugusari RT 06/01, Bumirejo, Dampit, Malang. 

Nanang Pramudya, Ir., dalang wayang purwo, kota Malang. Ttl; Trenggalek, 14 Desember 1970. Unversitas. Jl. Letjen Sutoyo III/53.A Kel. Lowokwaru, Kec. Lowokwaru, Kota Malang

Narto Suwandhi, dalang, Malang. Ttl; Blitar, 12 Februari 1970. Sarjana. Guru. Bondowangi, Dermo, Kec. Wagir, Malang. 

Nasikin, dalang, kota Malang. Ttl; Malang, 1948. SMA. Pegawai Susjur/AD. Kel. Sawojajar, Kec. Kedungkandang, Kota Malang. 

Ngadimin, dalang, Kab. Probolinggo. Ttl; Sleman, 11 Agustus 1957. Sarjana Muda Pendidikan. Guru. Jl. Raya 45 Kraksaan, Probolinggo. 

Nurikat, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pasuruan, 1927. Tani. Desa Pogal Lebakrejo, kec. Purwodadi, Pasuruan. 

P.H. Supardi, dalang, Malang. Ttl; Malang, 4 April 1955. SLTP. Wiraswasta. Jl. Bromo 104 Kepanjen, Malang. 

P. Murjati, dalang, Sidoarjo. Ttl; Ngawi, 25 Juni 1946. PGSMTP. Kepala SD. Jl. Jambu 18 Wage, Taman, Sidoarjo

Panca Ramin, dalang, Surabaya. Ttl; Trenggalek, 2 Februari 1960. SD. Jl. Menur Gg IV/65 Surabaya

Paidjan, dalang, Malang. Ttl; 1953. SLTA. Swasta. Kedungmonggo, Karangpandan, Kec. Pakisaji, Malang. 

Panidi, dalang, Malang. Ttl; 1948. SD. Tani. Wonokerso, Kec. Pakisaji. Malang. 

Panut Darmoko, Dalang Wayang Kulit, Nganjuk. Ttl: Nganjuk, 10 September 1931, Dalang tiga zaman, dengan kemampuan sanggit yang mengagumkan, serta mengajarkan etika dan moral pada dalang lainnya. Dialah dalang yang tidak komersial dan menjadi patron bagi dalang-dalang muda. Pernah menjadi “Dalang Istana” masa pemerintahan Soekarno dan Suharto. Ki Panut adalah pilar seni pedalangan yang akhirnya membuahkan hasil berupa penghargaan Hadiah Seni Presiden RI tahun 1980, Penghargaan Seni dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (2001), Penghargaan Gubernur Jatim 2001.

Parwiro Sabar, dalang, kota Madiun. Ttl; Madiun, 1942. SMP. Desa Segaten Kota Madiun. 

Peni Wardjono, dalang, Madiun. Jl. Gambir Sawit, Madiun-63124

Pi’in Erwanto, dalang, Gresik. Ttl; Gresik, 1962. SLTP, Swasta. Ds. Balongpanggang, Kec. Balongpanggang, Gresik. 

Pitono, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 1960. SD. Tani. Ds. Temon, Kec. Trowulan, Mojokerto
 
Pitoyo, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1954. SMP. Penjahit. Dsn. Kepatihan, Ds. Pamotan, kec. Dampit, Malang. 

Ponidjan Hadirejo, dalang Jawa Timuran, kota Malang. Ttl; Malang, 1926. SD. Wiraswasta. Ahli ruwatan. Jl. Tlogojoyo, Kel. Tlogomas, Kec. Lowokwaru, kota Malang. 

Ponidjan Kuswantoro, dalang, kota Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 15 Juni 1948. SLTA Pedalangan Solo. Karyawan PG Gempol Kerep. Jl. Empu Nala 187 Mojokerto. 

Poniman, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1939. Swasta. Bangelan. Malang. 

Pranoto, dalang, Malang. Ttl; Malang, 17 Mei 1950. SLTP. Karyawan PT. Selecta. Sumbergondo, Bumiaji, Kota Batu. 

Purwadi, dalang, Malang. Ttl; Malang, 9 September 1960. SMP. Swasta. Arjowilangun, Kalipare, Malang. 

Purwo Puguh Carito, dalang, Malang. Ttl; Malang, 18 Desember 1965. Swasta. Wonosari.

Rachmad, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 1943. SD. Tani. Ds. Petak, Kec. Pacet, Mojokerto

Radi Suroso, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1942. Swasta. Ngerto, RT 01/05, Ds. Kluwut. Malang. 

Ragil Sukoco, dalang, kota Kediri. Ttl; Kediri, 15 April 1951. SMA. Karyawan rokok Gudang Garam. Jl.Jenggolo I Kediri. 

Rahmad Pramudio, dalang, Madiun. Ttl; Madiun, 2 Mei 1953. Guru SPG. Jl. Nusan Tenggara, Madiun

Rachmat NS, dalang, Malang. Ttl; Malang, 8 Oktober 1957. SLTP. Wiraswasta. Jl. Bromo 94, Sukun Utara, Kepanjen. Malang. 

Raspan, dalang, kota Malang. Ttl; Malang, 1949. SD. Buruh Tani. Dk. Klayatan, Kel. Bandung. Rejosari, Kec. Sukun, kota Malang. 

Reda Aji Susanto, dalang, Malang. Ttl; Malang 8 Maret 1986. Kebonagung RT 24/04 Gg II/84 Kec. Pakisasji, Malang. 

Rekso Wiknyo Kartono, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Karanggempol, Gempol, Pasuruan. SD. Karangbangkal, Karangrejo, Gempol, Pasuruan. 

Rudy, dalang, kota Blitar. SLTA. Juara lomba tembang Jawa. Ngadirejo, Kec. Kepanjen idul. Blitar

Russiyadi, Ki, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pasuruan, 30 Juni 1957. SDN. Wiraswasta. Lumbangrejo, RT 01/01. Prigen, Pasuruan. 

S.H. Poesor, dalang, Malang. Ttl; Tuban, 16 Juni 1932. SGA. Pensiunan Guru. KPN Guyub Rukun. Jl. Akhmad Dahlan, Kepanjen, Malang. 

S. Prayitno, dalang, kota Kediri. RT 07/03 Desa Pesantren, kota Kediri. 

S. Hadi Prasetyo, dalang, Mojokerto. Ttl; Magetan, 5 April 1956. SMA. Wiraswasta. Ds. Sumberjati, Kec. Puri, Mojokerto. 

S. Sutrisno, dalang, Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 31 Januari 1945. SD. Tani. Jl. Karya Taruno 502 Suwaluh RT 14/04, Kec. Balongbendo, Sidoarjo. 

S. Suwadji (Ki), dalang, Gresik. Ttl; Gresik, 1945. SLTP. Swasta. Ds. Tulung, Kec. Kedamean, Gresik.

S. Wardono, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 25 September 1960. SLTP. Juara I Goro-goro (1983), Penyai terbaik (1994). Ds. Jiyu, Kec. Kutorejo, Mojokerto

Sabid Wibowo, dalang, Jombang. Ttl; 1954. SMP. Gondek, Mojowarno, Jombang

Sabdo Soeyoto S, dalang, Gresik. Ttl; Gresik, 1955. SLTA. Swasta. Perum Semen Gresik, Kec. Kebomas, Gresik.

Sadikan Gondho Carito (Ki), dalang, kota Kediri. Ttl; 3 Maret 1943. Desa Banaran, Kec. Pesantren, kota Kediri. 

Sakri, dalang, kota Madiun. Ttl; Madiun, 1947. SMA. Karyawan Dikbud kota Madiun. Desa Sogaten, kota Madiun. 

Sakri, dalang, Malang. Ttl; 1943. SLTA. Pensiunan PNS. Karangpandan RT 11/03, Kec. Pakisaji, Malang. 

Sakrip, dalang, Jombang. Ttl; 1953. SD. Sukodadi, Kabuh, Jombang

Salamun, dalang, Sidoarjo. Ttl; Mojokerto, 8 Juli 1945. SMP. Dagang. Wonoplintahan, Kec. Prambon, Sidoarjo. 

Salamun, dalang, Malang. Ttl; Malang. Swasta. Bumirejo, kec. Wonosari, Malang. 

Sameri, dalang, Malang. Ttl; Malang, 15 Desember 1957. SMP. Tani. Sumberbening, kec. Bantur, Malang. 

Samudi (Ir), dalang, Madiun. Ttl; Madiun, 19 Oktober 1946. Sarjana. Karyawan PPAT. Jl. Jati Suwur RT 14 Madiun

Sapani Anom Carito, dalang, kota Malang. Ttl: Malang, 1949. SMA. Kel. Dinoyo, Lowok Waru, Kota Malang. 

Samudji, dalang Malang. Ttl; Malang. SLTA. Sambogede, Karangkates, Malang.

Sardono, dalang, Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 2 Mei 1959. SD. Kedung Wonokerto RT 02/02, Kec. Krembung, Sidoarjo.
Sareh, dalang, Jombang. Ttl; Jombang, 1963. SMP. Ds. Kuwik, Bareng, Jombang. 

Sarman Tjiptoroso, dalang, Malang. Ttl; Pandesari, 12 Mei 1935. SD. Karyawan koperasi SAE. Jureng Rejo, pandesari, Kec. Pujon. Malang. 

Sarikat, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pasuruan, 1936. Tani. Sumberdawesari, Grati, Pasuruan. 

Sarto, dalang, kota Malang. Ttl; Malang, 1951. SMP. Swasta. Kel. Sawojajar, Kec. Kedungkandang, Kota Malang. 

Sawi, dalang, Jombang. Ttl; Jombang, 1960. SD. Marmoyo, Kabuh, Jombang.

Setro, dalang, Malang. Ttl; Malang. Swasta. Rekesan. Malang. 

Siantar, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1947. SPG/D-2. Guru SD. Wonokerto, kec. Bantur, Malang.

Sigit Saeun, BA, dalang, Jombang. Ttl; 1938. IKIP. Purnakaryawan Guru SPG, Gempol Legundi, Gudo, Jombang

Sihab Darmo Wisastro, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 12 Januari 1944. SLTP. Wiraswasta. Kutoporong, Bangsal, Mojokerto

Slamet, dalang, Jombang. Ttl; Jombang, 1958. SD. Gudo, Jombang.

Slamet, dalang, Jombang. Ttl; 1958. SD. Cangkringmalang, Pucangro, Gudo, Jombang

Slamet Ahmad Moerjono, dalang, Madiun. Ttl; Mojokerto, 22 Juli 1938. Swasta. Penulis naskah. Jl. Puspajaya 9 Madiun. 

Slamet Mudjiono, dalang, Madiun. Ttl; Madiun, 1948. SMP. Jl. Puspujaya, Madiun. 

Soegito, Drs. Dalang, Madiun. Jl. Salak Timur V/6 Madiun. 

Soekamto, dalang, Kab. Probolinggo. Ttl; Kediri, 1 Agustus 1944. SMA. PNS (Deppen). Jl. Letjen Suprapto 2, Kraksaan, probolinggo

Soeparno, dalang, Gresik. Ttl; 10 April 1960. SD. Ds. Karangandong, Kec. Driyorejo, Gresik.

Soeparno, dalang, Madiun. Ttl; Madiun, 27 Desember 1940. Guru SD. Ds. Pilangbango Madiun. 

Sri Yanto Purwacarita, dalang, Surabaya. Ttl; Boyolali, 28 April 1951. SLTA. Jl. Sidotopo Kulon 43 Surabaya. 

Subianto, dalang, kota Kediri. Ttl; Desa Tinalan II-12 B, Kec. Pesantren, Kediri

Subiyanto, dalang Malang. Ttl; Malang, 5 Juni 1970. SMP. Tani. Ngenep, Karangploso, Malang. 

Subowo Sudja’i, dalang, Gresik. Ttl; Gresik, 1947. SLTA. Swasta. Dadap Kuning, Kec. Cerme, Gresik.

Sudarsono, dalang, Gresik. Ttl; Gresik, 1951. SLTP. Swasta. Lebaniwaras, Kec. Wringinanom, Gresik.

Sudarmono, Drs, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1 Januari 1945. Perguruan Tinggi. Kepala SD. Donomulyo, RT 02/02, Malang. 

Sudikon, dalang, kota Kediri. Ttl; 3 Maret 1943. SMP. ds. Banaran, kota Kediri. 

Sudjadi, Drs. Dalang, Mojokerto. Ttl; Semarang, 3 Mei 1952. Sarjana. Pergawai Pemkot Mojokerto. Jl. Rajekwesi I-21 Mojokerto. 

Sugeng Pambudi, dalang, kota Probolinggo. Ttl; Klaten, 1 Juli 1937. SLTA/PSKI Surakarta. Pensiun PG Wonolangan. Jl. P. Sudirman VII-29 Kota Probolinggo. 

Sugeng Yuwono, dalang, Surabaya. Ttl; Kediri, 19 September 1940. SMEA. Manukan Lor III.E-42 Surabaya. 031.8492810. 

Sugiyanto, dalang, Blitar. 1968. SLTP. Pengrawit. Karangsari, Kec. Sukorejo, Blitar. 

Suharto, dalang, Malang. Ttl; 1958. SLTP. PNS Pertanian. Karangpandan RT 13/03 Kec. Pakisaji, Malang. 

Suhendro, dalang Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 4 Juni 1944. SLTP. Desa Reno Kenongo, Kec. Porong, Sidoarjo. 

Suhud, dalang, Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 31 Januari 1947. SMP. Tani. Ds. Reno Kenongo, Kec. Porong, Sidoarjo. 

Sukadji, dalang, kota Kediri. Ttl; Kediri, 3 Juli 1951. STM. PNS. Jl. Kuak Utara V-2 Kediri. 

Sukadji, dalang, kota Kediri. Desa Ngadirejo, kec. Kota, Kediri. 

Sukardi, dalang, Malang. Ttl; Malang, 10 Oktober 1958. SD. Tani. Sumberbening, kec. Bantur, Malang. 

Sukardji (dr. H), dalang, Surabaya. Ttl; S-1, MC, Rumah Dinas Puskesmas Jeruk, Jl. Menganti 279.A. Surabaya. 

Sukemi, dalang, kota Malang. Ttl; Trenggalek, 1952. Sarjana Sejarah. Jl. Cucak Rowo Kec. Sukun Kota Malang. 

Sukiman, dalang Jawa Timuran, kota Malang. Ttl; Gunung Kawi, Malang, 1952. SMP. Wiraswasta. Jurang Wungu Wagik, Kel. Jedang, Kec. Wugu, Kota Malang. 

Sukirno, dalang, Malang. Ttl; Malang, 7 Januari 1957. SMP. Tani. Pagelaran, Kec. Gondanglegi, Malang.

Sulasno Purbo Carito (Drs), dalang, Sidoarjo. Ttl; Lampung Tengah, 15 Juli 1962. Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia. Dosen STIT. Beberapa kali juara lomba dalang. Jl. Taruna Inpres 2 Wage, Taman, Sidoarjo. 

Suleman (Ki), dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pasuruan, 24 November 1939. SR. Karang Bangkal. Gempol. Pasuruan. 

Suliono, dalang, Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 18 Agustus 1940. SD. Ds. Simogirang Klatak, Kec. Prambon. Sidoarjo

Suliono Wirya Winoto, dalang, Malang. Ttl: 1956. SLTA. Kepala Desa. Karangpandan RT 13/03 Kec. Pakisaji, Malang. 

Sumantri, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 17 Mei 1942. SD. Tani. Ds, Segunung, Kec. Dlanggu, Mojokerto

Sumardi, dalang Sidoarjo. Ttl; Kediri, 1 Januari 1951. SD. Karyawan PT. Surya Kertas. Dusun Dongol, Desa Tempel, RT 04/02, Kec. Krian, Sidoarjo. 

Sumardi, dalang, Malang. Ttl; Malang, 4 Juni 1957. Swasta. Sumebrsari, Wonosari. Malang

Sumariono, dalang Malang. Ttl; Malang, 12 Mei 1948. SMP. Dagang. Juara Lomba Dalang Jatim 1994. Ngenep, Karangploso, Malang. 

Sumiati, dalang (wanita), kota Madiun. Jl. Jeruk 42 Taman, Kec. Taman. Madiun. 0351.496938

Sumidi, dalang, Malang. SD. Arjosari, Kalipare, Malang. 

Sumiran, dalang, Malang. Ttl; Swasta. Wonosari, Malang. 

Sumitro, dalang, Gresik. Ttl; Gresik, tahun 1957. SLTA. Swasta. 

Sunari (Budi Santoso), dalang, Malang. Ttl; Malang, 28 Desember 1956. Wiraswasta bengkel. Jl. Tegal Gondo 65 RT 17/04 Mojorejo, Bangkon, Junrejo, Malang. 

Sunari, dalang, Malang. Ttl; 1959. Swasta. Kedungmonggo, Karangpandan, kec. Pakisaji. Malang. 

Sunaryo. Budayawan, Dalang. Surabaya. Ttl: Trenggalek 
Wakil Gubernur Jatim ini di kalangan seniman justru lebih populer sebagai dalang. Perhatiannya pada kesenian tak diragukan lagi, lantaran mantan Sekwilda Jatim ini sekaligus juga pelaku kesenian.

Sunyoto, dalang, Bojonegoro. Ttl; Bojonegoro, 12 April 1954. SMP. Sejak 1970 dalang wayang kulit, pakeliran padat, juara Festival Pedalangan bidang Sabet (1986) Jatim. Dewan Kesenian Bojonegoro, Pepadi Komda Bojonegoro. Ds. Banjarjo, Kec. Padangan, Kab. Bojonegoro. R: 0353.551560. K: 0353.881571

Sunyoto, dalang, Malang. Ttl; 1958. SLTA. PG. Kebonagung. Pakisaji, Kec. Pakisasji, Malang. 

Supadi Tjipto Widjoyo, dalang, kota Kediri. Ttl; 1 September 1939. SPG. Kepala SDN Joho III. Ds. Betet, Kec. Pesantren, Kediri. 

Supangkat, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pandaan, 14 Mei 1942. SR. Kemisik, Sumbergedang, Pandaan, Pasuruan. 

Suparman, dalang, Malang. Ttl; Malang, 10 Juni 1950. SMP. Swasta. Wonosari, Kec. Wonosari, Malang. 

Suparno, dalang, Jombang. Ttl; Jombang, 1946. SD. Ds. Megaluh, Jombang.

Suparno, dalang, Jombang. 1944, SD. Balonggemek, Megaluh, Jombang

Suparno, dalang, Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 5 Mei 1953. SMP. Ds. Wonomlati, RT 07/04, Kec. Krembung. Sidoarjo

Suparto, dalang, Jombang. Ttl; Jombang, 1963. SD. Mangunan, Kabuh, Jombang.

Supeno Atmodjo, dalang, Gresik. Ttl; Gresik, 1959. SLTA. Swasta. Ds. Wetansari, Kec. Balongpanggang, Gresik. 

Supi’i, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1957. SD. Tani. Karanganyar, Poncokusumo, Malang. 

Suprapto, dalang, kota Kediri. Ttl; Kediri, 2 Juli 1948. SMA. Wiraswasta. Ds. Bujel, Kec. Mojoroto, Kediri. 

Suprawoto (drs), dalang, Surabaya. Ttl; S-1, Surabaya Mall Stand 11 Pasar Seni. Jl. Kusuma Bangsa Surabaya. 031……………

Supriadi, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1957. SD. Tani. Lebakhardjo, Ampelgading, Malang. 

Supriadi, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 10 Oktober 1959. SMP. Tani. Ds, Japanan, Kec. Kemlagi, Mojokerto

Supriyono, dalang, Madiun. Ttl: Solo, 1950. Sarjana. Karyawan RRI. Jl. Panjaitan 16 Madiun

Suradi, dalang, kota Malang. Ttl; Malang, 1952. SMP. Wiraswasta. Desa Kedungkandang, Kec. Kedungkandang, kota Malang. 

Suratman, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 1961. SMP. Tani. Ds. Sampang Agung, Kec. Kutorejo, Mojokerto. 

Surono Gondo Taruno, dalang, Surabaya. Ttl; Surabaya, 14 Februari 1962. SMKI-STKW, RRI Surabaya. Juara lomba dalang Jatim. Margo Rukun VIII-2 Surabaya. 031.5455708. 

Suroto, dalang, Malang. Ttl; Malang, 20 Mei 1948. SD. Tani. Jambuwer RT 41/12 Malang. 

Surwedi, dalang, Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 25 Juni 1944. SMA. Guru SMKI (SMKN IX). Juara lomba dalang berkali-kali. Dsn. Plumpung, Bakung Pringgodani, Kec. Balongbendo, Sidoarjo. 

Suryanto, dalang, kota Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 15 Juni 1956. SLTA Pedalangan Solo. Swasta. Jl. Gedongan VIII-15 Mojokerto. 

Susanto Doto, dalang, Surabaya. Ttl; Bojonegoro, 30 Juli 1961. SMP. Bulu Jaya Gg IV/8 RT 03/04 Lontar Lakarsantri Surabaya.

Sutikno, dalang, Jombang. 1963, SD. Grobogan, Mojowarno, Jombang

Sutjipto, Ki, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Trenggalek, 4 Oktober 1958. Pemkab Pasuruan. Jl. Erlangga XVII/10 Pasuruan. 0343.426010. 

Sutoyo, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 3 September 1957. SLTP. Tani. Ds, Modongan, Kec. Sooko, Mojokerto

Sutris, dalang, Malang. Ttl; Malang. Swasta. Sumbersari, ds. Wonosari, Malang. 

Suwadi, dalang, kota Malang. Ttl; Malang, 1940. SMP. Swasta. Kel. Sukun, kec. Sukun, kota Malang. 

Suwadi, dalang, Jombang. Ttl; 1953. SMP. Grobogan, kec. Mojowarno, Jombang. 

Suwadi Hariyanto, dalang, Jombang. Ttl; Jombang, 1944. SPG. Kepala SDN. Ds. Gebang Bunder, Plandaan, Jombang

Suwarno Sapto Putro, dalang, Malang. Ttl; SMA. Guru SDN. Desa Wonomulyo, Poncokusumo, Malang. 

Suwati, dalang, Jombang. 1958, SMP. Bakalrayung, Kudu, Jombang

Suwarno, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1949. SD. Dagang. RT 03/01 Rembun, Kec. Dampit. 

Suyasmani, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1966. SD. Desa Petungsewu, kec. Wagir, Malang. 

Suyatno, dalang, Mojokerto. Ttl; Mojokerto, 1960. SLTP. Wiraswasta. Ds, Bleberan, Kec. Jatirejo, Mojokerto

Suyono, dalang Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 6 Juni 1948. STM. Pengrajin. Desa Kendensari, Kec.Tanggulangin, Sidoarjo. 

Suyitno, dalang, Sidoarjo. Ttl; Nganjuk, 1 Januari 1941. SD. Swasta. Beberapa kali juara lomba dalang. Ds. Kedungboto, RT 17/03, Kec. Taman. Sidoarjo

Tambar, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1 Februari 1956. SMP. Wiraswasta. RT 1/14 Balesan, Kec. Ngajum, Malang.

Tamin Resa Wardoyo, dalang, Malang. Ttl; 1939. SLTA. Guru, kepsek. Karangpandan RT 09/03 Kec. Pakisaji, malang. 

Tamudji, dalang, kota Kediri. Ttl; 11 November 1955. SDN Ngronggo III, Kec. Kota Kediri. 

Tanoyo, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Sidoarjo, 7 Juli 1961. SMP. Karang Bangkal, Gempol, Pasuruan. 

Tarmun, dalang, Malang. Ttl; Malang, 1940. SD. Tani. RT 02/03, Desa Dilem. Kepanjen, Malang. 

Theresia Sutiyem, dalang, Surabaya. Ttl; Kediri, 30 Juni 1959. SMP. Kebonsari V/35 RT 03/02 Surabaya

Toyib Gondo Carito (Ki), dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Sidoarjo, 11 Oktober 1940. SR. Karangbangkal, Gempol, Pasuruan. 

Tukiman, dalang, Malang. Ttl; Malang, 9 Mei 1957. Balesari, Malang. 

Umbar Guno Wardoyo, dalang, kota Malang. Ttl; Malang, 1949. SMP. Sungging Wayang kulit. Jl.Kahuripan, Kota Malang

Wahono Yoso Carito, Ki, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Trenggalek, 1 Januari 1956. SMA. PNS. Juara I jatim (91/92), Juara Favorit Jatim (91/92). Desa Sladi Kejayan, Pasuruan.Telp 0343.427161. 

Wahyudi, dalang, Jombang. Ttl; 1948. PGA. Penilik Agama Islam. Wonosalam, Jombang

Wahyudi Sabdo Jati, Ki, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Trenggalek, 11 Januari 1955. Pemkab Pasuruan. Jl. Hasanudin XIII/23. 0343.423028. 

Waras Anto, dalang, Jombang. Ttl; Jombang, 1960. SD. Kedungotok, Tembelang, Jombang
.
Wardi, dalang, Malang. Ttl; Malang, 28 Mei 1953. SD. Tani. Kuhung, Ngenep, Karangploso, Malang.

Wariyan, dalang, kota Malang. Ttl; Malang 1938, SD. Swasta. Ds. Bakalan Kraja, Kec. Sukun, kota Malang. 

Winoto, dalang, Jombang. 1938. SR. Rekaman kaset wayang kulit Jawa Timuran. Pathuk, Kertorejo, Ngoro, Jombang. 

Wiryo Sutarno, Drs. Ec. MSi. Dalang, Surabaya. Ttl; Madiun, 5 Januari 1942. Dosen Untag Surabaya. Jl. Dukuh Kupang XIV-10 Surabaya. 031.5672141. 

Wuryanto, Drs, dalang, Malang. Perguruan Tinggi. Guru SMPK. Arjosari, Kalipare, Malang
.
Yadi Prayitno, dalang, Madiun. Jl. Manggala Mulya 14.B. Rejomulyo, Madiun.

Yaji, dalang, Malang. Ttl; 1959. SLTP. PG Kebunagung. Karangduren, Kec. Pakisaji, Malang

Yanto Sobowono, Ki, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Prigen, 24 Juni 1969. SMKI. Wiraswasta. Tretes, Prigen, Kab. Pasuruan. 

Yari, dalang, Malang. Ttl; 1952. SLTA. Satpam PG Kebonagung. Karangduren, Kec. Pakisaji, Malang.
Yogi Danang Priyo Utomo, dalang, kota Madiun. Ttl; Madiun, 20 Mei 1980. STSI. Jl. Perintis Kemerdekaan III-12 Madiun. 

Yohan Susilo, dalang, Sidoarjo. Ttl; Sidoarjo, 6 April 1977. IKIP Negeri Surabaya. Ds. Keret RT 01/01, Kec. Krembung, Sidoarjo. 

Zuber Adi Purnomo, Ki, dalang, Kab. Pasuruan. Ttl; Pasuruan, 1940. Wiraswasta. Dalang Jawa Timuran. Jl. Raya Tambakrejo 23 RT 01/04 Kec. Kraton, Pasuruan.


NB: Mohon maaf karena ini data salinan dari blog http://brangwetan.wordpress.com,dan ini juga Data tahun 2007. Dan kalau mungkin para Dalang Jawa Timur mau saya Data di Blog Radio Kurnia FM Sekaligus Mendaftar keanggotaan PPW (Paguyuban Pecinta Wayang daerah Jatim) panjenengan bisa langsung kirimkan Data lengkap ke Email kami di : kurnia.fm@gmail.com / radiokurnia@yahoo.com Tlp:0355.792 083/085 235 965 999
Winamp iTunes VLC BlackBerry Real One

TRENGGALEK KINASIH

Popular Posts

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus