Select Menu

,

,

Slider

Haji & Umroh

Motivasi

Serba Serbi

Trenggalek

Kesehatan

Videos

» » » MERINDUKAN SOSOK JENDRAL SUDIRMAN
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama


oleh Bram Palgunadi pada 18 Juni 2011 jam 13:38





Setiap kali saya melihat potret sosok Jenderal Sudirman dan berbagai cerita yang berkait dengan sosok Jenderal Sudirman (sebagian besar kisah-kisah itu, diceritakan oleh ayah saya),[1] meskipun berbeda jaman, meskipun berbeda profesi, meskipun saya sebenarnya sama sekali tak mengenalnya, meskipun saya sama sekali tidak mengalami berjuang bersamanya, meskipun bidangnya sama sekali berbeda, meskipun saya sama sekali tidak tahu apa latar belakangnya, meskipun sedemikian sedikit apa yang saya tahu tentang Jenderal Sudirman, dan meskipun terjadinya di jaman 'revolusi' dan saya lahir di jaman setelahnya; saat mengingat dan mengenangnya, tetap saja saya selalu terharu, 'mbrebes mili', meneteskan air mata, dan merasakan hal yang sangat mengharu-biru tak keruan; yang tak mudah untuk diceritakan kepada orang lain. 

Dulu, sewaktu saya masih anak-anak, beberapa puluh tahun yang lalu, sewaktu ayah saya sering bercerita tentang Jenderal Sudirman dan banyak peristiwa di sekitar Perang Kemerdekaan; rasanya perasaan saya biasa-biasa saja. Saat itu saya hanya merasakan kagum semata. Tetapi, setelah negeri tempat saya dilahirkan dan dibesarkan ini, kemerdekaannya sudah lebih dari 60 tahun, entah karena apa, tiba-tiba saya ingat kembali kepada berbagai cerita tentang Jenderal Sudirman. Mungkin, saya ketinggalan jaman. Mungkin juga, saya tidak memperhatikan atau tidak perduli sejarah. Atau, mungkin dulu saya terlalu acuh tak acuh saja dengan segala cerita kepahlawanan dan tidak memahami apa sebenarnya makna yang dikandung di dalam semua cerita kepahlawanan itu. Tetapi, setelah saya mengalami beberapa masa pemerintahan (beberapa masa kepemimpinan presiden Indonesia) yang berbeda, tiba-tiba ada perasaan rindu kepada seorang 'pemimpin sejati', seorang kstaria, dan seseorang yang benar-benar bekerja, memikirkan, dan berjuang untuk rakyat serta negara yang namanya 'Republik Indonesia'.


Jenderal Sudirman, seorang ksatria dan panglima Angkatan Perang Republik Indonesia yang sangat sederhana, teguh pendiriannya, dan pantang menyerah.
Banyak sahabat saya yang mengatakan, ini merupakan 'kerinduan kepada masa romantis jaman revolusi.' Meskipun pendapat itu ada benarnya juga, karena seluruh peristiwa yang diceritakan itu, memang terjadi di masa revolusi. Tetapi yang saya rasakan tidak demikian. Saya memang merindukan sosok seorang pemimpin negara yang berperi-laku dan bersifat ksatria, seperti Jenderal Sudirman. Seperti layaknya sebuah intan permata, meskipun ditenggelamkan di dalam lumpur, tetapi begitu seseorang tersadarkan dan tahu bahwa yang ada di dalam lumpur itu adalah intan permata, maka orang akan tetap berusaha mencari dan menggapainya. Intan permata, akan tetap sebagai intan permata, dan akan tetap bersinar, tetap berkilau, dan tetap cemerlang cahayanya; yang bisa menghasilkan rasa lega dan kegembiraan yang luar biasa, saat seseorang menemukannya. Tidak bisa seseorang mengecoh dan mengatakan, bahwa suatu intan permata adalah 'batu biasa', yang sama sekali tidak berharga dan sama sekali tidak ada maknanya. Seperti itulah pandangan saya tentang Jenderal Sudirman. Saya, seperti menemukan sosok pemimpin, yang dimimpikan banyak orang dan masyarakat Indonesia. Sayang sekali, pemimpin seperti Jenderal Sudirman itu, tidak bisa saya temukan di masa sekarang. Juga beberapa 'orang baik' yang juga berperi-laku seperti Jenderal Sudirman, semuanya sudah lebih dulu meninggalkan kita, menghadap dan kembali ke haribaan Sang Penguasa Jagat Raya. Misalnya, Jenderal Hoegeng Imam Santosa, jenderal polisi yang terkenal jujur, sederhana, dan bersih.[2]

Banyak orang mengatakan kepada saya, bahwa jaman sudah berbeda. Ya memang benar, jaman memang berbeda. Dan kita memang tidak bisa kembali ke jaman yang sudah lampau. Tetapi, apakah perbedaan jaman juga bisa menghasilkan perbedaan pandangan tentang soal 'kejujuran' dan darma baik sifat ksatria? Saya kok yakin tidak. Kejujuran dan darma baik sifat ksatria, semestinya merupakan sebuah pranata sosial yang tidak akan lekang oleh jaman, dan akan selalu menjadi pegangan dan pedoman hidup seseorang, jika ia hendak menjadi orang yang berperi-laku baik. Tidak pandang, di jaman apa ia hidup. Ya tentu saja dengan catatan, jika orang itu memang mau mengubah dirinya menjadi manusia yang baik, jujur, dan berdarma baik; seperti layaknya seorang ksatria.

Bagaimanapun juga, saya tetap meyakini, bahwa suatu ketika nanti, di Republik Indonesia tercinta ini, akan lahir Sudirman-Sudirman 'baru', yang meneruskan cita-cita, harapan, dan mimpi-mimpi Jenderal Sudirman di masa revolusi dulu. Saya tetap memimpikan, akan ada pemimpin-pemimpin yang mensejahterakan rakyatnya, mengayomi masyarakatnya, bersedia bekerja keras tanpa pamrih untuk kepentingan masyarakat banyak, jika perlu mengorbankan jiwa dan raganya. Semoga mimpi saya, sama dengan mimpi orang-orang lain dan masyarakat Indonesia.... 



Selanjutnya, di bawah ini ada tulisan/artikel bagus yang berkisah tentang Jenderal Sudirman.

"Kita sandarkan perjuangan kita sekarang ini atas dasar kesucian, kita yakin, bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak akan melalaikan hamba-Nya yang memperjuangkan sesuatu yang adil berasaskan kesucian bathin. Jangan cemas, jangan putus asa, meski kita sekalian menghadapi macam-macam kesukaran dan menderita segala kekurangan, karena itu kita insya Allah akan menang, jika perjuangan kita sungguh berdasarkan kesucian, membela kebenaran dan keadilan. Ingatlah pada firman Tuhan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 138 yang berbunyi: 'Walaa tahinu walaa tahzanuu, Wa antumul a’launa inkuntum mu’minin', yang artinya janganlah kamu merasa rendah, jangan kamu bersusah hati sedang kamu sesungguhnya lebih baik jika kamu mukmin."


Pasukan 'gerilya' berbaris dengan gagah memasuki Kota Yogyakarta.

Di masa revolusi dulu, mereka hanya berpikir berjuang untuk republik Indonesia.

Bergerilya di berbagai wilayah pedalaman Jawa Tengah.

Sebuah bangunan markas pasukan Indonesia di sekitar Kota Yogyakarta.
Dengan penuh keyakinan sang Jenderal menyiapkan pasukannya. Kutipan ayat-ayat suci itu bukanlah pemanis bibir untuk mendongkrak popularitas. Kalimat agung itu hanya akan mampu dilahirkan oleh orang yang meyakininya. Pesan Rabbaniyah itu mengiringi seruan mobilisasi dalam menghadapi kekuatan Belanda, pada agresi kedua. Dua jam sebelum pendaratan (Belanda, red), Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman yang masih berumur 30 tahun, membangunkanku (Catatan: Maksudnya Bung Karno). Setelah menyampaikan informasi yang diterimanya terlebih dahulu, dia mendesak: "Saya minta dengan sangat, agar Bung Karno turut menyingkir. Rencana saya hendak meninggalkan kota dan masuk hutan. Ikutlah Bung Karno dengan saya."

Sambil mengenakan pakaianku cepat-cepat aku berkata: "Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu. Dan tempatmu bukanlah pelarian bagi saya. Saya harus tinggal di sini, dan mungkin bisa berunding untuk kita dan memimpin rakyat kita semua. Kemungkinan Belanda mempertaruhkan kepala Bung Karno. Jika Bung Karno tetap tinggal di sini, Belanda mungkin menembak saya. Dalam kedua hal ini, saya menghadapi kematian, tapi jangan kuatir. Saya tidak takut. Anak-anak kita menguburkan tentara Belanda yang mati. Kita perang dengan cara yang beradab, akan tetapi …"

Soedirman mengepalkan tinjunya: "…Kami akan peringatkan kepada Belanda, kalau Belanda menyakiti Sukarno, bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran."  Soedirman melangkah ke luar dan dengan cemas melihat udara. Ia masih belum melihat tanda-tanda, "Apakah ada instruksi terakhir sebelum saya berangkat?" tanyanya.  "Ya, jangan adakan pertempuran di jalanan dalam kota. Kita tidak mungkin menang. Akan tetapi pindahkanlah tentaramu ke luar kota, Dirman, dan berjuanglah sampai mati. Saya perintahkan kepadamu untuk menyebarkan tentara ke desa-desa. Isilah seluruh lurah dan bukit. Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar. Ini adalah perang gerilya semesta".

"Sekali pun kita harus kembali pada cara amputasi tanpa obat bius dan mempergunakan daun pisang sebagai perban, namun jangan biarkan dunia berkata bahwa kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat. Perlihatkan kepada dunia bahwa kita membeli kemerdekaan itu dengan mahal, dengan darah, keringat dan tekad yang tak kunjung padam. Dan jangan ke luar dari lurah dan bukit hingga Presidenmu memerintahkannya. Ingatlah, sekali pun para pemimpin tertangkap, orang yang di bawahnya harus menggantikannya, baik ia militer maupun sipil. Dan Indonesia tidak akan menyerah!"

Itulah dialog yang terekam, saat detik-detik agresi militer Belanda tanggal 19 Desember 1948, Sukarno menuturkan kepada Cindy Adams dalam biografinya. Perlu diketahui, bahwa pada saat memimpin perang gerilya, paru-paru sang Jenderal hanya berfungsi sebelah, atau hanya satu paru-paru yang bisa dijadikan tumpuan dalam setiap tarikan nafas sang Jenderal. Dan sebenarnya, Presiden Sukarno pada waktu itu menyarankan agar Jenderal Soedirman menjalani perawatan saja karena penyakit Jenderal Soedirman pada waktu itu tergolong parah. "Yang sakit itu Soedirman…Panglima Besar tidak pernah sakit….!"  Itu jawaban sang Jenderal. Tidak terbayangkan begitu besarnya semangat perjuangan sang Jenderal dalam melawan musuh dan penyakit yang dideritanya.


Panglia Besar Jenderal Sudirman, saat menghadap Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Dengan berbekal materi seadanya, Sang Jenderal memimpin pasukannya berperang melawan tentara sekutu, yang diboncengi tentara Belanda. Dengan ditandu, Jenderal Soedirman keluar masuk hutan, naik dan turun gunung memimpin pasukan, meracik strategi perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan lamanya, dengan rute Yogyakarta sampai Malang. Kisah menarik terjadi, pada waktu Jenderal Soedirman memimpin peperangan dan terjadi pengkhianatan dari salah satu anggota pasukannya. Tentara Belanda, menggunakan berbagai cara untuk menjebak dan menangkapnya. Jenderal yang ahli strategi ini, adalah target operasi yang paling diburu waktu itu. Setelah Belanda mendapatkan informasi dari salah satu penghianat di internal pasukan Jendral Soedirman. Belanda kemudian mengepung keberadaan Jenderal Soedirman. Menyadari kondisinya dalam keadaan terjepit, Sang Jenderal tidak kehilangan akal. Seluruh anak buahnya diperintahkan memakai sarung dan peci, lalu dibuatlah skenario seolah-olah dalam ruangan itu tengah mengadakan pengajian. Taktik ini digunakan untuk mengelabui Belanda yang akan menangkap dirinya.

Pada saat salah seorang pimpinan Belanda memasuki ruangan dan bertanya di manakah keberadaan Sang Jendral, maka informan Belanda yang turut hadir dalam ruangan itu (selama ini, tidak diketahui keberadaan pengkhianat ini), turut serta pula mengikuti taktik Sang Jenderal, berdiri dan menunjuk ke arah Jenderal Soedirman (pada waktu itu, Sudirman berpura pura menjadi seorang kyai yang memimpin pengajian). Namun, komandan Belanda itu tidak mempercayai kalau yang memimpin pengajian itu adalah Jenderal Soedirman sendiri. Karena dinilai memberikan informasi palsu, akhirnya si pengkhianat malah ditembak di tempat oleh komandan Belanda tersebut. Kemudian, mereka pergi dengan meninggalkan persembunyian Sang Jenderal dan anak buahnya. Maka selamatlah Jenderal Soedirman dan pasukannya.

Sebuah taktik brillian dan pengambilan keputusan yang tepat dari Sang Jenderal. Strategi perang gerilyanya terbukti efektif dalam memimpin pasukan melawan penjajah. Banyak kerugian yang diderita pasukan penjajah dalam taktik gerilya ini. Pertempuran dan perlawanan terjadi di berbagai daerah sehingga memaksa Belanda beserta sekutunya kembali ke meja perundingan. Jenderal Soedirman, diminta pulang kembali ke Yogya. Ia, dengan tegas menolak perundingan. Beberapa kali, utusan Pemerintah dikirim ke Sobo, namun tidak berhasil melunakkan pendiriannya. Akhirnya, pemerintah meminta jasa baik Kolonel Gatot Subroto, Panglima Divisi II. Hubungan pribadi kedua tokoh ini, cukup baik. Jenderal Soedirman sangat menghargainya sebagai saudara tua.


Defile penghormatan barisan pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), yang sekarang kita kenal sebagai TNI (Tentara Nasional Indonesia), saat menyambut kembalinya Panglima Besar Jenderal Sudirman di Kota Yogyakarta.

Akhirnya, pada tanggal 10 Juli 1949, Panglima Besar dan pasukannya kembali ke Yogya. Di sepanjang jalan, rakyat berjejal-jejal menyambutnya. Mereka ingin melihat wajah Panglima Besarnya yang lebih suka memilih bergerilya dari pada beristirahat di tempat tidur. Kedatangan Panglima Besar, disambut dengan parade militer, di Alun-alun Yogyakarta. Penampilannya yang pertama sesudah bergerilya, diliputi suasana haru. Para perwira TNI yang selama bergerilya terkenal gagah berani, tak urung meneteskan air mata, setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri keadaan fisik Panglima Besarnya, yang pucat dan kurus. Rasa haru dan kagum bercampur menjadi satu. Selama bergerilya kesehatan Soedirman menurun, beberapa kali ia jatuh pingsan. Setibanya di Yogyakarta, kesehatan Jenderal Soedirman diperiksa kembali, ternyata paru-paru yang tinggal sebelah sudah terserang penyakit. Karena itu Panglima Besar Soedirman harus beristirahat di rumah sakit Panti Rapih. Semua perundingan yang memerlukan kehadiran Soedirman dilakukan di rumah sakit. Rasa tidak senang terhadap diplomasi yang ditempuh Pemerintah dalam menghadapi Belanda, masih membekas di hati Jenderal Soedirman.

Pada tanggal 1 Agustus 1949, ia menulis surat kepada Presiden Soekarno, berisi permohonan untuk meletakkan jabatan sebagai Panglima Besar, dan mengundurkan diri dari dinas ketentaraan. Namun, surat tersebut tidak jadi disampaikan, karena akan menimbulkan perpecahan. Isi surat tersebut, menjadi amat terkenal karena termuat kata-kata: "Bahwa satu-satunya hak milik Nasional Republik yang masih tetap utuh tidak berubah-rubah adalah hanya Angkatan Perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia)."

Sementara itu, kesehatan Panglima Besar semakin memburuk, sehingga ia harus beristirahat di Pesanggrahan Militer, Magelang. Pada tanggal 6 Juli 1949, Presiden, Wakil Presiden, dan pemimpin Indonesia lainnya; kembali dari pengasingannya di Sumatera. Di Ibu-Kota Yogyakarta, mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat. Kedatangan para pemimpin RI itu disusul oleh rombongan Pemerintah Darurat RI pimpinan Mr. Syafrudin. Kembali juga dari medan gerilya, Panglima Besar Soedirman beserta rombongan pada tanggal 10 Juli 1949, yang didampingi oleh Komandan Daerah Militer Yogya, Letnan Kolonel Soeharto. Saat-saat kembalinya dari medan gerilya, Panglima Besar Jenderal Soedirman ternyata tidak begitu senang dengan rencana kembali ke Ibukota Yogya saat itu, karena di daerah pertempuran di Jawa dan Sumatera masih banyak bertahan pasukan-pasukan gerilya TNI. Dan sementara berunding, Belanda masih terus-menerus mengadakan penyerangan (istilah mereka 'pembersihan'). Soedirman, sebagai Panglima Besar, masih merasa berat hati meninggalkan para prajurit di medan gerilya. Di samping itu, ada kecurigaan terhadap kejujuran lawan mengenai perundingan dan gencatan senjata, sesuai dengan pengalaman Soedirman, selama beberapa tahun bertempur dan berunding dengan Belanda.


Jenderal Sudirman, karena sakit parah, harus ditandu oleh para anggauta pasukan gerilya dan rakyat, untuk bisa terus memimpin secara langsung perang gerilya di wilayah pedalaman. Suatu contoh pemimpin yang sangat luar biasa, yang di masa sekarang, mungkin tak akan pernah bisa kita temukan lagi.

Tetapi, karena kepatuhannya yang luar biasa kepada Pimpinan Nasional, dan adanya surat yang dikirimkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan sahabat karibnya Kolonel Gatot Subroto, yang disertai penjelasan Letnan Kolonel Soeharto, maka Soedirman akhirnya mau turun ke kota, ia langsung melapor kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam suasana pertemuan yang sangat mengharukan. Setelah itu, Soedirman menerima parade penghormatan dari prajurit-prajurit TNI pimpinan Letnan Kolonel Soeharto, di Alun-alun Lor Yogya. Surat Kolonel Gatot Subroto kepada Pak Dirman, sangat sederhana bunyinya, namun cukup menggugah perasaan. Pak Gatot yang kenal betul dengan Soedirman beserta semua sifatnya, menulis antara lain:

"Tidak asing lagi soya, tentu soya juga mempunyai pendirian begitu. Semua-semuanya Tuhan yang menentukan, tetapi sebagai manusia kita diharuskan ikhtiar. Begitu juga dengan adikku (Soedirman-peny), karena kesehatannya terganggu harus ikhtiar, mengaso sungguh-sungguh jangan menggalih (memikirkan-peny) apa-apa. Coat alles waaien. lni supaya jangan mati konyol, tetapi supaya cita-cita adik tercapai. Meskipun buah-buahnya kita tidak turut memetik, melihat pohonnya subur, kita merasa gembira dan mengucapkan terima kasih kepada yang Maha Kuasa. lni kali soya selaku saudara tua dari adik, minta ditaati."

Soedirman, adalah sosok pejuang kemerdekaan, yang mengobarkan semangat jihad, perlawanan terhadap kezhaliman, membekali dirinya dengan pemahaman dan pengetahuan agama yang dalam, sebelum terjun dalam dunia militer untuk seterusnya aktif dalam aksi-aksi perlawanan dalam mempertahankan kemerdekaan negeri. Ia mengawali karir militernya, sebagai seorang da'i muda, yang giat berdakwah di era 1936-1942, di daerah Cilacap dan Banyumas. Hingga pada masa itu, Soedirman adalah muballigh masyhur yang dicintai masyarakat.

Tanggal 24 Januari 1916 Soedirman dilahirkan. Ayahnya, seorang mandor tebu, pada sebuah pabrik gula di Purwokerto, daerah Karesidenan Banyumas. Sejak bayi, Soedirman diangkat anak oleh Camat Rembang, Raden Tjokrosunaryo. Soedirman, sejak kecil ia sudah biasa menghadiri berbagai pengajian, yang digelar desanya. Ketika masih kanak-kanak, selepas Maghrib, bersama anak-anak lainnya, Soedirman dengan membawa obor, pergi ke surau untuk mengaji. Ketika bersekolah di sebuah lembaga pendidikan milik Muhammadiyah, Perguruan Wiworo Tomo, Soedirman aktif dalam gerakan kepanduan 'Hizbul Wathan'. Soedirman bersekolah di lembaga pendidikan yang dianggap liar oleh pemerintahan kolonial Belanda, sampai dengan tahun 1934.

Di lembaga pendidikan ini, ada tiga orang guru yang sangat mempengaruhi pembentukan karakter seorang Soedirman, yakni Raden Sumoyo, Raden Mohammad Kholil, dan Tirtosupono. Yang pertama, memiliki pandangan nasionalis-sekuler. Yang kedua, Raden Moharnad Kholil, memiliki pandangan nasionalis-Islamis. Sedangkan yang ketiga, merupakan lulusan dari Akademi Militer Breda di Belanda. Kendati berbeda-beda persepsi, namun ketiga guru Soedirman tersebut, sama-sama mengambil sikap non-kooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dari ketiganya, karakter Soedirman terbentuk: Islamisme, Nasionalisme, dan militansi militer. Bahkan, dalam soal agama, Soedirman dianggap agak fanatik. Hal ini, menyebabkan ia sering dipanggil dengan nama panggilan 'Kaji' (si Haji) oleh kawan-kawannya.

Soedirman, mengawali karir sebagai guru agama. Dia, juga sering berkeliling, untuk mengisi ceramah dan pengajian di berbagai tempat, dari Cilacap hingga Banyumas. Walau sibuk, namun Soedirman tetap aktif di organisasi Pemuda Muhammadiyah, hingga dipercaya menjabat Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah, di Karesidenan Banyumas. Karir militernya, diawali saat terjadi pemboman Cilacap oleh Jepang, pada tanggal 4 Maret 1942. Ketika PETA dibentuk, Soedirman bergabung ke dalamnya. Dia menjadi Daidanco, di daerah Banyumas, yang dikenal berani membela anak buahnya dari kesewenang-wenangan Jepang. Soedirman pun, mengumpulkan pasukannya sendiri, dan berhasil merebut kekuasaan dari tangan Jepang, tanpa pertumpahan darah. Dari pasukannya, Soedirman membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat), sebagai cikal bakal TNI sekarang, pada tanggal 5 Oktober 1945. Soedirman memimpin Resimen Divisi I TKR, yang meliputi Karesidenan Banyumas. Persenjataan pasukannya, sangat lengkap, disebabkan ia berhasil merebut gudang senjata Jepang. Oleh Kastaf MBU TKR, Letnan Jenderal Urip Sumoharjo, Soedirman diangkat menjadi Komandan Divisi V Daerah Banyumas. Tak lama setelah menjabat, Soedirman ditugaskan memukul mundur pasukan pemenang Perang Dunia II, Inggris dan NICA, dari Banyubiru, Ambarawa. Dalam peristiwa itu, ada orang Amerika yang ditawan Jepang. Menurut perjanjiannya, Inggris hanya mendaratkan pasukannya di Semarang. Namun, Inggris ternyata ingkar janji dan menusuk hingga Ambarawa. Terjadilah pertempuran laskar santri, yang dipimpin para kiai dari berbagai pesantren di Jawa Tengah, Soedirman berhasil memukul mundur pasukan Inggris / NICA, hingga Semarang. Hal inilah yang menjadikan Soedirman diangkat menjadi Panglima TKR.


Penghormatan pasukan untuk yang terakhir kali, yang merupakan saat-saat yang paling mengharukan, sesaat sebelum jenazah Jenderal Sudirman, Sang Ksatria pembela tanah air Indonesia, dikebumikan di Taman Makam Pahlawan.

Sebagai seorang Ustadz, yang terpanggil untuk berjuang membebaskan dan mempertahankan kemerdekaan negerinya, Jenderal Soedirman meyakini, jika perjuangan ini merupakan 'jihad fi sabilillah', melawan kaum kafir. Sebab itu, dalam situasi yang paling genting sekalipun, Soedirman tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Selain ibadah wajib, seperti sholat lima waktu, Soedirman juga sering menunaikan Qiyamul-lail dan puasa sunnah. Jenderal Soedirman, selalu menjaga ibadah-ibadahnya. Bahkan dalam keadaan yang sangat berbahaya bagi jiwanya. Saat bergerilya di selatan Yogya, selama Perang Kemerdekaan, Soedirman yang dalam kondisi sakit, selalu menjaga sholatnya, juga sholat malamnya. Bahkan, tak jarang dia juga berpuasa Senin-Kamis. Di setiap kampung yang disinggahinya, dia selalu mendirikan pengajian, dan memberikan ceramah keagamaan kepada pasukannya. Kabar keshalihan Soedirman ini, tersebar sampai ke seluruh penjuru Nusantara. Sebab itu, para pejuang Aceh yang juga meyakini jika perang kemerdekaan merupakan 'jihad fi sabilillah', begitu mendengar panglimanya yang shalih ini sakit, mereka segera mengirim bantuan berupa 40 botol obat suntik 'streptomisin' guna mengobati penyakit paru-paru beliau.

Penyakit TBC yang diderita, tidak menyurutkan langkah perjuangannya. Sampai akhir usianya, 38 tahun, Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dicintai rakyat, menghadap Sang Khalik pada tanggal 29 Januari 1950, tepat hari Ahad. Bangsa ini, mencatat satu lagi pejuang umat, yang lahir dari umat, dan selalu berjalan seiring untuk kepentingan umat. Sebuah perjuangan yang penuh dengan keteladanan. Baik untuk menjadi pelajaran dan contoh, bagi kita semua, anak bangsa. Perjalanan panjang seorang da'i pejuang, yang tidak lagi memikirkan tentang dirinya, melainkan berbuat dan berkata hanya untuk rakyat serta bangsa tercinta. Dirgahayu Negeriku! [Aidil Heryana, S.Sosi] [3]

______________________________

[1] Ayah saya (Ir. R I S Pramoedibjo S), semasa Perang Kemerdekaan, adalah seorang anggauta pasukan TP (Tentara Pelajar) dari Brigade XVII, yang ikut bertempur dan bergerilya di wilayah sekitar Yogyakarta.

[2] Saya mengenal Jenderal Hoegeng bukan sebagai seorang jenderal polisi, melainkan sebagai anggauta ORARI (Organisasi Amatir Radio Indonesia) Lokal DKI Jakarta, yang jika tidak salah, di kalangan 'orang radio' beliau terkenal dengan tanda-panggil (call sign) YB0BG (lazim dilafalkan/diucapkan sebagai 'yankee bravo zero bravo golf', namun kadang-kadang juga dilafalkan/diucapkan sebagai 'yankee bravo zero bee gees'). Semasa saya masih duduk di bangku SMA dan tinggal di Kota Semarang, yakni di sekitar tahun 1970-an, saya merupakan anggauta ORARI, Lokal Semarang. Tanda-panggil (call sign) saya adalah YD2GG (lazim dilafalkan/diucapkan sebagai 'yankee delta dua golf golf'). Di masa itu, saya aktif melakukan komunikasi radio dengan sejumlah anggauta ORARI lain, yang tinggal di berbagai kota di Indonesia, termasuk dengan mereka yang tinggal di Kota Jakarta. Komunikasi radio itu, umumnya dilakukan pada ban radio gelombang 80 meter atau pada ban radio frekuensi 3,5 - 3,9 MHz; memakai emisi AM (amplitude modulation). Pada beberapa kesempatan di masa itu, saya juga pernah berkomunikasi dengan Pak Hoegeng, yang lazim dipanggil 'old man' Hoegeng. Sebutan 'old man' (dalam kartu QSL, biasanya disingkat menjadi 'OM'), merupakan sebutan bagi para anggauta amatir radio pria di seluruh dunia, yang sudah berumur atau sudah dewasa.

[3] "Jenderal ‘Kaji’ itu Seorang Panglima Perang", diunggah oleh Mbah Soero, Agustus 2009, artikel oleh Aidil Heryana, S.Sos., dalam Kaskus. Kutipan artikel ini, disunting seperlunya, sekedar untuk merapikan susunan kalimatnya, dilengkapi dengan sejumlah catatan tambahan untuk memperjelas, tetapi sama sekali tidak mengurangi atau mengubah seluruh isinya.
Posting Sumber dari Milis PPW dari Bram Palgunadi

About Kurniafm Trenggalek

Radio Kurnia FM Trenggalek"-Informasi Music Dan Budaya" Telp.0821 4107 4555 SMS.0821 4107 4666
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

1 komentar

PIMPINAN CABANG PEMUDA MUHAMMADIYAH GOMBONG mengatakan...

manusia langka yang sulit mencari padanannya saat2 seperti sekarang..semoga Allah menempatkan engkau dengan para nabi, syuhada dan shalihiin. amiin.