Select Menu

,

,

Slider

Haji & Umroh

Motivasi

Serba Serbi

Trenggalek

Kesehatan

Videos

» » Malas Belajar & Solusinya
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Penyebab
Kalau anak enggan belajar, tentunya perlu dicari tahu sebab-musababnya, baru kemudian diambil suatu tindakan. Beberapa sebab mengapa anak enggan belajar, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kurangnya waktu yang tersedia untuk bermain
2. Sedang punya masalah di rumah (misalnya suasana di rumah sedang “kacau” karena ada adik baru).
3. Bermasalah di sekolah (tidak suka/phobia sekolah, sehingga apapun yang berhubungan dengan sekolah jadi enggan untuk dikerjakan).
4. Sedang sakit.
5. Sedang sedih (bertengkar dengan teman baik, kehilangan anjing kesayangan)
6. Tidak ada masalah atau sakit apapun, juga tidak kurang waktu bermain (malahan kebanyakan), hanya memang MALAS.
Malas
Dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Muhammad Ali, malas dijabarkan sebagai tidak mau berbuat sesuatu, segan, tak suka, tak bernafsu. Malas belajar berarti tidak mau, enggan, tak suka, tak bernafsu untuk belajar.
Kalau anak-anak tidak suka belajar dan lebih suka bermain, itu berarti belajar dianggap sebagai kegiatan yang tidak menarik buat mereka, dan mungkin tanpa mereka sadari juga dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya/untungnya karena bagi ana-anak tidak secara langsung dapat menikmati hasil belajar. Berbeda dengan kegiatan bermain, jelas-jelas kegiatan bermain menarik buat anak-anak, dan keuntungannya dapat mereka rasakan secara langsung (perasaan senang yang dialami ketika bermain adalah suatu keuntungan).
Motivasi
Dalam dunia psikologi, dorongan yang dirasakan seseorang untuk melakukan sesuatu disebut sebagai motivasi. Motivasi tersebut dapat berasal dari dalam maupun dari luar diri seseorang.
Morgan (1986) dalam bukunya Introduction To Psychology, menjelaskan beberapa teori motivasi:
1. Teori insentif
Dalam teori insentif, seseorang berperilaku tertentu untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu ini disebut sebagai insentif dan adanya di luar diri orang tersebut. Contoh insentif yang paling umum dan paling dikenal oleh anak-anak misalnya jika anak naik kelas akan dibelikan sepeda baru oleh orangtua, maka anak belajar dengan tekun untuk mendapatkan sepeda baru. Insentif biasanya hal-hal yang menarik dan menyenangkan, sehingga anak tertarik mendapatkannya. Insentif, bisa juga sesuatu yang tidak menyenangkan, maka orang berperilaku tertentu untuk menghindar mendapatkan insentif yang tidak menyenangkan ini. Dapat juga terjadi sekaligus, orang berperilaku tertentu untuk mendapatkan insentif menyenangkan, dan menghindar dari insentif tidak menyenangkan.
2. Pandangan hedonistik
Dalam pandangan hedonistik, seseorang didorong untuk berperilaku tertentu yang akan memberinya perasaan senang dan menghindari perasaan tidak menyenangkan. Contohnya: anak mau belajar karena ia tidak ingin ditinggal ibunya ke pasar/supermarket.
Dari uraian di atas, dapat diasumsikan anak yang malas tidak merasa adanya insentif yang menarik bagi dirinya dan ia pun tidak merasakan perasaan menyenangkan dari belajar.
Memberikan Dorongan Agar Anak Mau Belajar
Sehubungan dengan teori motivasi di atas tentunya bisa dikatakan dengan mudah, ayo kita berikan dorongan agar anak mau belajar. Tapi dorongan seperti apa yang dapat diberikan kepada anak?
Berikut ini adalah beberapa buah saran:
1. Berikan insentif jika anak belajar. Insentif yang dapat diberikan ke anak tidak selalu harus berupa materi, tapi bisa juga berupa penghargaan dan perhatian. Pujilah anak saat ia mau belajar tanpa mesti disuruh (peristiwa ini mungkin jarang terjadi, tapi jika saat terjadi orangtua memperhatikan dan menunjukkannya, hal tersebut bisa menjadi insentif yang berharga buat anak). Pujian selain merupakan insentif langsung, juga menunjukkan penghargaan dan perhatian dari orangtua terhadap anak. Anak seringkali haus perhatian dan senang dipuji. Jadi daripada memberikan perhatian ketika anak tidak mau belajar dengan cara marah-marah, dan ketika belajar tanpa disuruh orangtua tidak memberikan komentar apapun, atau hanya komentar singkat tanpa kehangatan, akan lebih efektif perhatian orangtua diarahkan pada perilaku-perilaku yang baik.
2. Terangkan dengan bahasa yang dimengerti anak, bahwa belajar itu berguna buat anak. Bukan sekedar supaya raport tidak merah, tapi misalnya dengan mengatakan “Kalau Ade rajin belajar dan jadi pintar, nanti kalau ikut kuis di tv bisa menang loh, dapat banyak hadiah. Kan kalau anak pintar, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya”.
3. Sering mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang diajarkan di sekolah pada anak (bukan dalam keadaan mengetes anak, tapi misalnya sembari mengisi tts atau ikut menjawab kuis di tv). Jika anak bisa menjawab, puji dia dengan menyebut kepintarannya sebagai hasil belajar. Kalau anak tidak bisa, tunjukkan rasa kecewa dan mengatakan “Yah Ade nggak bisa jawab, nggak bisa bantu Mama deh. Ade, di buku pelajarannya ada nggak sih jawabannya? Kita lihat yuk sama-sama”. Dengan cara ini, anak sekaligus akan merasa dipercaya dan dihargai oleh orangtua, karena orangtua mau meminta bantuannya.
4. Banyak lembaga pra-sekolah yang mengajarkan kepada anak pelajaran-pelajaran dengan metode active learning atau learning by doing, atau learning through playing, salah satu tujuannya adalah agar anak mengasosiasikan belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan. Tapi seringkali untuk anak-anak SD, hal ini agak sulit dipraktekkan, karena mulai banyak pelajaran yang harus dipelajari dengan menghafal. Untuk keadaan ini, hal minimal yang dapat dilakukan adalah mensetting suasana belajar. Jika setiap kali pembicaraan mengenai belajar berakhir dengan omelan-omelan, ia akan mengasosiasikan suasana belajar sebagai hal yang tidak memberi perasaan menyenangkan, dengan demikian akan dihindari.
Membuat Suasana Belajar Lebih Menyenangkan
Selain tidak sering-sering memarahi anak ketika belajar, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan agar suasana belajar lebih menyenangkan dan anak mau belajar. Hal-hal tersebut adalah:
1. Anak cenderung meniru perilaku orangtua, karena itu jadilah contoh buat anak. Ketika menyuruh dan mengawasi anak belajar, orangtua juga perlu untuk terlihat belajar (misalnya membaca buku-buku).  Sesekali ayah-ibu perlu berdiskusi satu sama lain, mengenai topik-topik serius (suasana seperti anak sedang kerja kelompok dan diskusi dengan teman-teman, jadi anak melihat kalau orangtuanya juga belajar). Dengan demikian, anak melihat bahwa orangtuanya sampai tua pun tetap belajar.
2. Pilih waktu belajar terbaik untuk anak, ketika anak merasa segar. Mungkin sehabis mandi sore. Anak juga bisa diajak bersama-sama menentukan kapan waktu belajarnya.
3. Anak butuh suatu kepastian, hal-hal yang dapat diprediksi. Jadi jadikan belajar sebagai rutinitas yang pasti. Misalnya ketika sudah ditentukan, waktu belajar adalah 2 jam setiap hari, pukul 17.00-19.00, maka pada jam tersebut harus digunakan secara konsisten sebagai waktu belajar. Kecuali disebabkan hal-hal yang mendesak, misalnya anak baru sampai rumah pukul 16.30, tentunya tidak bijaksana memaksa anak harus belajar pukul 17.00, karena masih lelah.
4. Anak punya daya konsentrasi dan rentang perhatian yang berbeda-beda. Misalnya ada anak yang bisa belajar terus-menerus selama 1 jam, ada yang hanya bisa selama setengah jam. Kenali pola ini dan susunlah suatu jadwal belajar yang sesuai. Bagi anak yang hanya mampu berkonsentrasi selama 30 menit, maka berikan waktu istirahat 5-10 menit setelah ia belajar selama 30 menit. Demikian untuk anak yang mampu belajar lebih lama.
5. Dalam artikel di Tabloid Nova edisi Maret 2002, disarankan agar orangtua menemani anak ketika belajar. Dalam hal ini orangtua tidak perlu harus terus-menerus berada di samping anak karena mungkin Anda sebagai orangtua memiliki pekerjaan. Namun paling tidak ketika anak mengalami kesulitan, Anda ada di dekatnya untuk membantu.
Tips: Umum Untuk Murid

10 Cara untuk Meningkatkan Prestasi di Sekolah
10 cara penting yang dapat kamu lakukan untuk meningkatkan prestasi di sekolah:
1. Jadilah seorang pemimpin. Latihlah rasa tanggung jawabmu.
Apabila guru meminta bantuanmu untuk mengerjakan sesuatu misalnya membersihkan kelas, jangan ragu untuk menerimanya. Ajak beberapa teman kelas dan pimpin mereka untuk membersihkan kelas bersama-sama.
2. Mendengarkan penjelasan guru dengan baik.
Jawablah setiap pertanyaan yang diajukan oleh guru apabila kamu mengetahui jawabannya. Jangan menunggu guru untuk memanggil kamu untuk menjawab pertanyaan.
3. Jangan malu untuk bertanya.
Selalu ajukan pertanyaan kepada guru apabila tidak mengerti tentang sesuatu hal.
4. Kerjakan PR dengan baik, jangan selalu mencari alasan untuk tidak mengerjakannya.
Jangan malas mengerjakan PR dengan alasan lupa atau menunda-nunda mengerjakannya. Enak kan kalau kita cepat mengerjakan PR, jadi masih punya banyak waktu untuk bermain dan nonton TV deh!
5. Setiap pulang dari sekolah, selalu mengulang pelajaran yang tadi diajarkan.
Nanti sewaktu ada ulangan jadi tidak banyak yang harus dipelajari! Asyik!
6. Cukup istirahat, makan dan bermain.
Semuanya dilakukan secara berimbang. Setelah pulang sekolah, kita sering ingin cepat-cepat bermain dan melupakan segala hal penting lainnya, contohnya makan dan istirahat. Padahal setelah seharian di sekolah, tak terasa badan kita membutuhkan masukan energi tambahan yang bisa didapatkan dari istirahat dan makanan yang kita makan. Oleh karenanya kita harus dapat membagi waktu untuk makan, istirahat dan bermain. Kalau semuanya dilakukan dengan baik, badan jadi segar setiap hari! Jadi tidak sering mengantuk di kelas!
7. Banyak berlatih pelajaran yang kurang disuka.
Apabila kamu tidak menyenangi suatu mata pelajaran, contohnya matematika, maka banyak-banyaklah berlatih, mengikuti kursus atau belajar berkelompok dengan teman. Sehabis belajar bisa bermain dan menambah teman baru di tempat kursus. Selain itu, siapa tahu dari kurang menyukai matematika, kalian malahan menyukainya.
8. Ikutilah kegiatan ektrakurikuler yang kamu senangi.
Cari tahu kegiatan apa yang cocok dan kamu suka. Contohnya apabila kalian suka pelajaran tae kwon do, cobalah untuk mengikuti kursus dari kegiatan tersebut, sehingga selain belajar pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah, kalian juga dapat mendapatkan pelajaran tambahan di luar sekolah.
9. Cari seorang pembimbing yang baik.
Orangtua adalah pembimbing yang terbaik selain guru. Apabila ada yang kurang jelas dari keterangan guru di sekolah, kalian dapat menanyakan hal tersebut kepada orang tua. Selain itu, kalian juga dapat belajar dari teman yang berprestasi.
10. Jangan suka mencontek teman.
Kalau mencontek, kamu bisa bodoh karena tidak berpikir sendiri. Lagipula belum tentu, teman yang kamu contek itu menjawab pertanyaan dengan benar. Belum lagi kalau ketahuan guru dan teman lain, malu kan? Kalau kamu rajin belajar, pasti bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar sehingga ulangan dapat nilai baik.
Dalam belajar kita sering merasa tidak nyaman yang kemudian menyebabkan kegiatan belajar jadi kurang maksimal. berikut adalah tips-tips persiapan sebelum belajar agar belajar bisa berlangsung nyaman dan materi yang sedang di pelajari pun bisa lebih mudah buat dimengerti. so here are the ways. :
1. Bikin body se-fresh mungkin, dengan gitu membuat pikiran kita juga lebih fresh. Mandi, adalah salah satu caranya.
2. Cari suasana yang paling nyaman Bisa di taman, di tempat sunyi (asal jangan keterusan ngelonjor, ngelamun jorok or tidur). Biasanya juga memutar musik yang ngebantu kita merasa betah dan comfortable. Bersihin dan rapiin tuh kamar, ini membantu lebih berkonsentrasi.
3. Buat catatan-catatan kecil terhadap apa yang kamu temuin. Ini akan membantu mengingat dan sekaligus memudahkan bila mengulang lagi, kaga perlu membaca seluruh isinya, cukup point-point-nya saja yang telah kamu buat. Praktis khan? Mungkin juga ada hal-hal yang kaga dimengerti atau pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat membaca, dengan catatan itu bisa kamu tanyain ama temen atau guru tanpa harus menyimpannya di memori kamu. Hemat lah penggunaan memori kamu, save energy.
4. Susunlah hubungan-hubungan yang terjadi Dari catatan-catatan kecil tersebut, susunlah hubungan antara catatan-catatan tersebut. Buatlah semacam kerangka yang menjelaskan dari awal dan akhir. Ini membantu untuk mengerti apa yang sebenarnya atau memahami pelajaran yang dipelajari, dengan demikian otak kamu terlatih untuk menganalisis sebuah permasalahan dan menemukan bagaimana mengatasinya. Berbeda dengan sekedar menghapal, tanpa tahu apa yang sebenarnya, ini tidak akan berlangsung lama dan sebelum kamu selesai menghapal seluruhnya, hapalan yang pertama sudah lupa lagi. sekali lagi hematlah penggunaan memori kamu, karena memori kamu bukan hardisk. Agak lama memang, tetapi akan lebih menarik dan sekali mengerti tidak mudah untuk lupa karena yang diingat memori kamu adalah hasil pemahaman otak bukan tulisan-tulisan di buku.
5. Hindari SKS (Sistim Kebut Semalam) Ini akan membuat badan kamu jadi meriang dan sakit. Otak manusia itu punya batas. Kaga bisa dipaksain untuk bekerja terus-menerus dan sekaligus. Kenapa? Karena otak dirancang untuk bekerja efisien, apabila ada pemahaman baru, maka pemahaman yang lama akan dihapus dan diganti pemahaman yang baru. Pemahaman yang kita peroleh sifatnya bertahap yang semakin lama akan semakin bagus. Ini yang disebut kemampuan belajar. Contohnya kita belajar 10 bab, apabila dipaksaain sepuluh bab dipelajari seluruhnya. Otak kita akan berusaha memasukkan 10 pemahaman. Kalau kaga cukup, jadinya akan kacau, tumpang tindih kaga karuan. Tetapi kalau bertahap, setelah kita baca 2 bab misalnya, pemahaman kita pada bab satu akan diperbaharui dengan pemahaman setelah kita baca bab 1 dan bab 2, demikian seterusnya sehingga setelah 10 bab, otak kita akan menyimpan sebuah pemahaman tentang 10 bab sebagai satu kesatuan, bukan 10 pemahaman.
6. Istirahat Otak kita butuh istirahat, kalau sudah jenuh, istirahat beberapa saat untuk mengendurkan otot termasuk mata. Setelah itu baru mulai lagi. Dengan begitu engga terasa otak kita akan bertahan cukup lama untuk belajar.
7. Kesimpulan Buatlah kesimpulan pada setiap akhir kegiatan belajar. Dengan demikian kamu akan mendapatkan inti dari keseluruhan apa yang telah dipelajari.
8. Belajar Kontinyu Biasakanlah menganggap belajar sebuah kebutuhan, seperti makan, tidur, nge-game dsb. Disamping jadi smart, hal ini akan melatih otak untuk kritis dan cepat memahami hal-hal baru. Jadi engga ada istilah telmi, malu-maluin.
selamat mencpba n wish u all da best
Untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal, maka kita perlu membagi waktu secara tepat, agar waktu yang kita miliki tidak terbuang percuma. Maka tepatlah kata pepatah bahwa waktu adalah uang. Ini dimaksudkan agar kita dapat menghargai waktu yang ada. Kita selalu dihadapkan pada hal-hal yang membutuhkan kedisiplinan. Dan waktu adalah salah satu faktornya.
Ada beberapa kiat agar kita dapat membagi waktu yang ada, beberapa diantaranya adalah:
1. Sedini mungkin belajar disiplin menepati janji
“Janji adalah hutang” itu pula salah satu pepatah kuno yang menggambarkan betapa pentingnya kita menepati janji. Jadi usahakan harus menepati janji yang telah dibuat dengan orang lain. Hargailah waktu yang diberikan oleh orang, karena orang tersebut juga telah menyempatkan waktunya yang juga berharga untuk menepati janji tersebut
2. Jangan menunda-nunda pekerjaan
Pekerjaan yang ada harus segera kita selesaikan tanpa menundanya. karena bila kita menundanya bisa jadi pekerjaan akan semakin banyak dan kita akan kesulitan sendiri untuk menyelesaikannya. Menunda pekerjaan adalah salah satu cirri orang yang tidak dapat membagi waktunya.
3. Membuat jadwal harian pada hidupmu
Buatlah jadwal yang akan mengatur kehidupanmu seperti memiliki manajer pribadi dan yang menentukan apa yang akan dilakukan adalah jadwal yang telah anda buat sendiri. kalau memungkinkan buat pula rencana masa depan baik yang berjangka panjang maupun pendek.
4. Hindari kegiatan yang membuang waktu
Misalnya ngerumpi atau bergosip adalah salah satu contoh kegiatan yang dapat membuang waktu sia-sia. Kalau kita bisa mengerjakan hal yang lebih barmanfaat alangkah baiknya kita mengerjakannya. Namun kadang kala kita memang membutuhkan sedikit waktu untuk refresing. Dan kita dapat menggunakan waktu luang kita untuk sejenak melepaskan kepenatan yang ada setelah sekian lama kita berkutat dalam berbagai kegiatan, misalnya kita dapat gunakan waktu tersebut untuk tidur atau berlibur, atau mengerjakan hobi yang kita sukai.
5. Buatlah skala prioritas
Membuat skala prioritas mungkin dapat membantu kita dalam membagi waktu yang kita miliki. Kita dapat memilih mana hal penting yang akan kita kerjakan terlebih dahulu, atau mana hal yang perlu dan tidak perlu kita lakukan. Dengan membuat skala prioritas maka kita hanya akan menggunakan waktu kita untuk hal yang berarti dalam hidup kita.
Jadi pergunakanlah waktu sebaik dan seefisien mungkin agar kita dapat merasakan apa yang kita kerjakan selama ini adalah tidak sia-sia belaka.
Belajar Sukses
BELAJAR. Mendengar kata ini saja sebagian orang sudah merasa ”alergi”. Yang terbayang dibenak adalah setumpuk buku tebal yang membosankan. Banyak orang juga beranggapan bahwa mereka sudah lama lulus dari sekolah, jadi untuk apa belajar. Orang-orang tersebut berpikir demikian karena mereka tidak melihat ataupun belum menikmati manfaat dahsyat dari kegiatan ”belajar”.
Dalam berbisnis, belajar sudah menjadi keharusan. Tanpa belajar, pelaku bisnis dapat dipastikan akan jauh tertinggal dan tersingkir dari persaingan, karena belajar menumbuhkan inovasi, dan inovasi melahirkan perubahan positif yang diperlukan dalam berbisnis. Belajar pun harus dilakukan dengan cepat, bahkan jika mungkin, harus lebih cepat dari pesaing, dan dari perubahan yang terjadi. Jadi, untuk sukses di bidang apa pun yang kita tekuni, kita harus ”BELAJAR”. Belajar yang bagaimana yang bisa membawa sukses? Simak belajar untuk sukses berikut.
Manfaat Belajar
Menurut D.A Benton yang telah mensurvei para CEO (Chief Executives Officers) dari berbagai bidang industri, belajar merupakan salah satu kebiasaan penting para CEO sukses. Pemimpin perusahaan yang efektif senantiasa mengembangkan diri dengan belajar, karena mereka banyak mendapatkan manfaat dari kebiasaan sukses ini.
Orang penting. Dengan banyak ”belajar” kita menjadi orang yang memiliki banyak pengetahuan. Orang sekitar kita pun akan melihat dan merasakan ”aset” pengetahuan yang kita miliki, sehingga mereka akan datang kepada kita untuk mendapatkan ”solusi” yang mereka cari. Dengan demikian, kita bisa menjadi orang yang diperlukan oleh orang-orang sekitar kita, karena dianggap dapat memberikan manfaat, solusi bagi mereka. Alhasil, kemungkinan besar kita tidak akan tersingkir dari persaingan di tempat kerja. Sebaliknya, pengetahuan kita yang terus bertambah tersebut akan bisa membuka kesempatan besar untuk melaju dalam karier, ataupun dalam persaingan bisnis.
Misalnya: Rini, yang memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan, senantiasa menjadi andalan teman-teman, bahkan atasannya sebagai ”narasumber” dalam membantu mereka mengatasi berbagai masalah. Rini, yang memiliki pengetahuan bahasa Inggris paling baik di antara teman-temannya, dan pengetahuan yang luas dalam bidang pemasaran dan keuangan, selalu saja dimintai pendapat dalam membuat surat dan proposal bisnis penting untuk mitra asing, ataupun dalam menyiapkan presentasi bisnis dan negosiasi dengan calon pembeli. Atasan Rini pun selalu membawa Rini dalam pertemuan dengan mitra bisnis asing, ataupun dalam menghadiri pertemuan-pertemuan bisnis di luar negeri.
Keputusan berkualitas. Pengetahuan dan keterampilan yang kita dapatkan dari kebiasaan belajar, bisa menjadi alat ampuh dalam membantu kita mengambil keputusan yang berkualitas. Dengan kemampuan yang selalu disempurnakan, kita menjadi lebih bijak dalam melihat suatu permasalahan, karena bisa melihat permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas. Hal ini membantu kita untuk menghasilkan alternatif solusi yang lebih beragam, dan lebih tajam karena didukung dengan pengetahuan dan keterampilan yang lebih kaya.


Misalnya: Toto, yang memiliki minat besar dalam bidang e-learning, beberapa bulan terakhir ini banyak membaca berbagai literatur di bidang pembelajaran elektronik. Ketika perusahaan IT tempat ia bekerja kemudian mengembangkan bisnis ke arah e-learning, ia diberi kepercayaan untuk pembuatan proposal pengembangan bisnis di bidang e-learning. Ditunjang dengan pendidikannya di bidang keuangan, keterampilan di bidang teknologi informasi, dan pengetahuan yang baru saja dipupuknya di bidang e-learning, Toto berhasil menyusun berbagai keputusan bisnis yang lebih berkualitas dan dengan derajat keyakinan sukses yang lebih tinggi.
Master of change. Pembelajaran senantiasa membawa perubahan, karena pengetahuan dan keterampilan yang baru, seseorang memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan. Di dunia bisnis yang diwarnai dengan perubahan yang cepat. Para pelakunya harus senantiasa menelurkan perubahan. Jika pelaku bisnis tidak berubah, maka mereka akan dilibas oleh perubahan tersebut. Sebaliknya, dengan senantiasa melakukan pembelajaran yang berkesinambungan, pelaku bisnis bisa menjadi pihak yang mengendalikan perubahan (master of change), bukan pihak yang menjadi korban perubahan.

Misalnya: Untuk memasuki bisnis teknologi tinggi yang penuh perubahan, pemain baru di industri ini haruslah menawarkan sesuatu yang baru agar bisa tampil sebagai pemenang. Inilah yang dilakukan oleh Michael Dell, pebisnis yang pada saat itu masih sangat muda. Pengetahuannya yang kuat di bidang perakitan komputer, serta kebiasaan belajarnya yang diperoleh dengan senantiasa mengamati perubahan yang terjadi di industri yang ditekuni, mendorong pemuda ini untuk berani tampil melibas pemain lama di dunia perakitan komputer. Cara baru yang cepat, unik, dan cerdas di tawarkan pada pelanggan, yaitu kesempatan untuk merakit komputer sesuai dengan kebutuhan sendiri, dengan harga yang relatif lebih murah, dan pengiriman yang lebih cepat.

Apa Yang Dipelajari
Okay. Sekarang kita sudah yakin bahwa belajar itu dapat mendatangkan banyak manfaat. Tapi, apa sih sebenarnya yang harus kita pelajari?
Yang diperlukan. Prioritas utama dalam pembelajaran tentunya adalah pembelajaran seputar topik-topik yang bisa langsung diperlukan untuk menunjang pekerjaan kita. Jika kita bergerak di bidang IT solution, tentunya kita harus banyak melahap literatur (buku, artikel, majalah) yang berhubungan dengan teknologi informasi. Kita juga bisa belajar dengan mengamati sepak terjang tokoh-tokoh bisnis IT ataupun perusahaan IT yang telah sukses di bidang masing-masing. Jika kita bergerak di bidang SDM, pastilah topik-topik pengembangan sumber daya manusia, dan pelatihan-pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menjadi topik-topik utama yang perlu kita gali.
Yang menunjang. Selain mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaan yang kita tekuni, kita juga bisa mempelajari pengetahuan dan keterampilan penunjang, yaitu yang bisa memberi nilai tambah bagi kualitas pekerjaan kita. Pengetahuan dan keterampilan bernegosiasi, berkomunikasi dengan efektif, menyusun anggaran, mengendalikan dan memimpin orang lain, project management, serta menyusun anggaran sudah pasti dapat membantu kita dalam menjalankan pekerjaan kita dengan lebih baik.
Yang disenangi. Pengetahuan dan keterampilan yang langsung terkait ataupun yang tidak langsung dapat menunjang pekerjaan kita memang sangat diperlukan. Tapi, yang juga kita perlukan adalah pengetahuan dan keterampilan yang dapat memberi kesenangan dan kenikmatan bagi kita. Biasanya pengetahuan dan keterampilan ini berkaitan dengan minat dan hobi kita. Jika kita adalah seorang akuntan, tapi memiliki minat besar di bidang otomotif, kita bisa saja melahap bahan bacaan, melakukan observasi tentang dunia otomotif. Jika, ternyata kita mendapat kesempatan untuk mengaudit sebuah perusahaan otomotif, kita sudah memiliki latar belakang kegiatan otomotif yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan kita. Jadi, galilah dan pupuk minat kita walaupun sepertinya tidak terlalu berhubungan dengan pekerjaan kita saat ini.
Yang meningkatkan kualitas watak. Yang juga perlu diingat dalam mencari hal-hal yang harus dipelajari, adalah tidak sekedar pengetahuan dan keterampilan ”teknis” semata. Yang lebih penting adalah melakukan pembelajaran dalam hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas watak, misalnya: belajarlah juga bagaimana mengembangkan integritas, kejujuran, disipilin, keyakinan sukses, kepemimpinan dan komitmen. Semua ini bisa kita gali melalui pengamatan terhadap atasan, bawahan, teman sejawat, ataupun tokoh sukses di sekitar kita. Sumber lain yang juga sangat kaya akan hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas watak adalah buku-buku biografi orang-orang terkenal.

Prinsip Belajar
Lalu, prinsip apa yang dapat kita terapkan dalam melakukan pembelajaran yang berkelanjutan? Ada dua prinsip yang harus kita perhatikan, yaitu:
Komitmen. Douglas Brown, seorang pakar bahasa, mengatakan bahwa jika ingin belajar dengan sukses, prinsip utamanya adalah komitmen, yaitu: komitmen secara fisik, mental, dan emosional. Prinsip ini tidak hanya berlaku bagi pembelajaran di bidang bahasa, melainkan juga di bidang-bidang lain. Menurut Brown, agar belajar memberikan hasil yang maksimal, seorang pembelajar perlu secara fisik memberikan komitmennya dalam belajar, misalnya dengan menyediakan waktu khusus untuk belajar, terlibat secara fisik dalam mencari bahan-bahan yang harus dipelajari, ataupun mencatat hal-hal penting yang ditemui dalam belajar. Komitmen secara mental juga diperlukan, yaitu dengan memproses informasi yang didapatkan (bukan sekedar mendengar informasi selintas, dari kuping kiri ke kuping kanan, atau membaca selintas tanpa menyimak). Komitmen secara mental bisa dilakukan misalnya dengan mengaitkan informasi yang baru diterima, dengan pengalaman kita, dan mencari cara ataupun kesempatan untuk menerapkan informasi baru ini untuk meningkatkan kualitas pekerjaan, kegiatan, dan kehidupan kita. Sedangkan komitmen secara emosional melibatkan upaya untuk ”menyukai” apa yang kita pelajari. Tanpa rasa ”senang” akan sulit bertahan dalam belajar, terutama jika kita menghadapi bagian-bagian yang sulit untuk dicerna. Kesenangan akan topik yang dipelajari akan tumbuh jika kita bisa mencari dan menggali manfaat dari topik yang dipelajari tersebut, atau jika kita memiliki minat yang tinggi terhadap topik tersebut.
Praktik. Prinsip lainnya adalah praktik. Mempraktikkan pengetahuan dan keterampilan yang baru dipelajari akan memberikan manfaat optimal bagi peningkatan kualitas hidup kita. Tanpa praktik, lama-kelamaan pengetahuan dan keterampilan tersebut akan menjadi usang. Seperti halnya belajar mengendarai mobil. Jika kita hanya ”membaca” dan ”memahami” petunjuk dalam mengendarai mobil, tanpa ada usaha untuk mencoba ”menjalankan” mobil tersebut, maka pengetahuan ini akan sia-sia, kita tidak akan bisa mengendarai mobil. Kita harus mau mencoba turun ke jalan. Pada mulanya pasti banyak hambatan, tapi dengan berjalannya waktu, dan keinginan untuk belajar dari tiap kesalahan yang kita lakukan, kita akan semakin mahir dalam mengendarai mobil. Jadi, pengetahuan dan keterampilan yang baru dipelajari, agar dapat memberikan manfaat yang optimal, perlu ”DIPRAKTIKKAN”.
Strategi Belajar Sukses
Setelah mengetahui manfaat belajar, apa yang harus dipelajari, dan prinsip yang bisa diterapkan untuk belajar, kita juga perlu mengetahui strategi belajar yang dapat memberikan hasil yang optimal. Banyak strategi belajar yang bisa kita pilih untuk diterapkan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

Belajar Efisien. Survei yang dilakukan terhadap orang-orang yang sudah mencapai posisi puncak membuktikan bahwa mereka memiliki kebiasaan ”belajar”. Pertanyaan selanjutnya: Bagaimana mereka bisa memiliki waktu belajar di tengah kesibukan mereka? Ternyata mereka bisa belajar kapan saja, dimana saja, dan dari siapa saja. Selain dari membaca buku, majalah dan surat kabar di rumah, mereka juga bisa memanfaatkan waktu menunggu, waktu makan siang, waktu di jalan (berkendaraan, maupun dalam penerbangan dan perjalanan dengan kereta api) untuk menambah ilmu.
Selain membaca, mereka juga memanfaatkan waktu mereka untuk melakukan observasi lapangan berbagai hal yang terjadi sekitar mereka. Cara lain yang mereka terapkan adalah mendengarkan informasi berbentuk ”audio” (kaset, CD) dalam perjalanan atau dalam melakukan pekerjaan lain. Mereka juga menyerap informasi penting dan menarik dari diskusi dengan sesama profesional, atasan, bawahan, pelanggan, guru, pelatih, dan juga dari pesaing. Mereka juga sering menyempatkan diri untuk menghadiri seminar, workshop, ataupun pelatihan singkat, ataupun menyempatkan waktu untuk meningkatkan diri melalui sarana elektronik (misalnya: anggota beberapa mailing list, memanfaatkan fasilitas e-learning).

Belajar Efektif. Seperti juga kepribadian, setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Ada yang lebih mudah belajar melalui audio. Ada yang lebih dapat menyerap informasi yang berupa tampilan secara visual. Ada juga yang lebih mudah menyerap informasi melalui gerakan. Selain gaya belajar yang dihubungkan dengan indera, gaya belajar juga bisa dihubungkan dengan waktu. Sebagian orang lebih mudah belajar di pagi atau siang hari. Sedangkan sebagian lagi lebih mudah belajar di malam hari. Yang penting adalah mengenali gaya belajar kita. Setelah itu kita bisa menyusun strategi belajar yang disesuaikan dengan gaya belajar kita.
Misalnya, jika kita lebih mudah belajar di malam hari dan kita cenderung lebih efektif menyerap informasi dalam bentuk visual, maka strategi belajar kita adalah belajar hal-hal yang serius di malam hari dengan menggunakan input visual ataupun memvisualisasikan informasi yang kita terima (misalnya, kita bisa menggambarkan informasi yang kita baca dengan diagram, simbol-simbol, flowchart, grafik, yang dapat mempermudah pemahaman kita akan informasi yang akan kita serap).

Belajar Bijak. Pengalaman (terutama kegagalan, kesuksesan, kesalahan) adalah guru yang terbaik. Jadi, jangan pernah melewatkan kesuksesan yang kita raih, kegagalan yang kita alami, dan kesalahan yang kita lakukan tanpa memetik pengalaman dari hal-hal tersebut. Tetapi waktu kita untuk belajar dari pengalaman sangat terbatas. Kita tidak akan bisa memanfaatkan semua waktu yang kita dapatkan untuk mempelajari semua yang kita perlukan. Untuk itu, kita perlu belajar cerdas dan bijak. Yang bisa kita lakukan antara lain adalah belajar tidak hanya dari pengalaman kita sendiri, terutama adalah belajar dari pengalaman orang lain. Banyak cara yang bisa dilakukan, antara lain adalah membaca biografi orang-orang sukses. Dari artikel, buku biografi setebal puluhan sampai ratusan halaman, kita bisa memetik pengalaman berpuluh-puluh tahun dari orang-orang yang riwayat hidupnya dibukukan. Cara lain adalah membaca hasil survei di bidang-bidang yang kita minati. Hasil survei memetakan data dan informasi yang diekstraksi secara profesional dari pengalaman orang lain juga. Cara yang lebih mudah adalah ”bertanya” pada orang-orang yang kita anggap lebih berpengalaman dari kita dalam bidang-bidang yang kurang kita kuasai. Dengan belajar dari orang lain, kita bisa melipatgandakan pengetahuan yang kita dapatkan (yaitu pengetahuan dari pengalaman kita sendiri ditambah dengan pengetahuan dari orang-orang lain).
Di dunia yang bergerak cepat, banyak perubahan terjadi. Untuk mengendalikan perubahan ini, kita perlu belajar. Tanpa belajar, kita tidak bisa mengejar perubahan tersebut. Dengan belajar pun, jika tidak dilakukan dengan kecepatan yang sesuai dengan kecepatan perubahan tersebut, belum tentu juga kita dapat bertahan. Jadi, belajar sudah merupakan suatu keharusan, tetapi yang lebih diperlukan adalah belajar untuk sukses, yaitu belajar dengan menerapkan strategi belajar efesien, efektif dan bijak. Selamat belajar!n

Belajar Aktif


A. Pendekatan Belajar Aktif
Belajar Aktif adalah cara pandang yang menganggap belajar sebagai kegiatan membangun makna/pengertian terhadap pengalaman dan informasi, yang dilakukan oleh si pembelajar, bukan oleh si pengajar, serta menganggap mengajar sebagai kegiatan menciptakan suasana yang mengembangjkan inisiatif dan tanggung jawab belajar si pembelajar sehingga berkeinginan terus untuk belajar selama hidupnya dan tidak tergantung pada guru/orang lain bila mereka mempelajari hal-hal baru.
Pandangan guru seharusnya;Mengangap guru lebih sebagai tukang kebun yang merawat dan memelihara tanaman dari pada sebagai penuang air yang menuangkan air ke dalam gelas kosong.
Menganggap siswa lebih sebagai tanaman yang memiliki kemampuan untuk tumbuh sendiri dari pada sebagai gelas kosong yang hanya dapat penuh bila ada yang mengisi.
B. Perlu Belajar Aktif
Paling sedikit ada tiga alas an mengapa belajar aktif perlu diterapkan:
1. Karakteristik Siswa.
- Rasa ingin tahu yang merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap kritis
- Imajinasi yang merupakan modal berfikir dan berperilaku kreatif
2. Hakikat belajar
Belajar adalah proses menemukan dan membangun makna/pengertian oleh si pembelajar terhadap informasi dan pengalaman yang disaring melalui persepsi, pikiran, dan perasaan si pembelajar. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru. Pengetahuan dibangun sendiri oleh si pembelajar.
3. Karakteristik lulusan yang dikehendaki.
Agar mampu bertahan dan berhasil dalam hidup, lulusan yang diinginkan adalah generasi yang:
- Peka (berarti berpikir tajam, kritis, dan tanggap terhadap pikiran dan perasaan orang lain)
- Mandiri (berarti berani dan mampu bertindak tanpa selalu tergantung pada orang lain), dan
- Bertanggung jawab berarti siap menerima akibat dari keputusan dan tindakan yang diambil.
C. Suasana Belajar Aktif
Suasana belajar aktif adalah suasana belajar mengajar yang membuat siswa melakukan:
1. Pengalaman
Anak akan belajar banyak melalui berbuat. Pengalaman langsung mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya melalui mendengarkan.
Mengenal benda terapung dan tenggelam akan lebih mantap bila mencoba sendiri secara langsung daripada hanya mendengarkan penjelasan guru. Demikian pula untuk hal lainnya.
2. Interaksi
Belajar akan terjadi dan meningkat kualitasnya bila terjadi suasana interaksi dengan orang lain. Interaksi dapat berupa diskusi, saling bertanya dan mempertanyakan, saling menjelaskan, dll. Pada saat orang lain mempertanyakan pendapat kita atau apa yang kita kerjakan maka kita terpacu untuk berpikir menguraikan lebih jelas lagi sehingga kualitas pendapat itu lebih baik.
3. Komunikasi
Pengungkapan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tulisan, merupakan kebutuhan setiap manusia dalam rangka mengungkapkan dirinyauntuk mencapai kepuasan. Pengungkapan pikiran, baik dalam rangka mengemukakan gagasan sendiri atau menilai gagasan orang lain, akan memantapkan pemahaman seseorang tentang apa yang sedang dipikirkan atau dipelajari.
4. Refleksi
Bila seseorang mengungkapkan gagasannya kepada orang lain dan mendapat tanggapan maka orang itu akan merenungkan kembali (refleksi) gagasannya, kemudian melakukan perbaikan sehingga memiliki gagasan yang lebih mantap. Refleksi dapat terjadi sebagai akibat dari interaksi dan komunikasi. Umpan balik dari guru atau siswa lain terhadap kerja seorang siswa, yang berupa pertamyaan menantang (membua siswa berpikir) dapat merupakan pemicu bagi siswa untuk melakukan refleksi tentang apa yang sedang dipikirkan atau dipelajari.
D. Sikap Guru yang Menerapkan Belajar Aktif
Sesuai dengan pengertian mengajar di atas, yaitu menciptakan suasana yang mengembangkan inisiatif dan tanggung jawab belajar siswa, maka sikap dan perilaku guru hendaknya ;
1. Terbuka, mau mendengarkan pendapat siswa
2. Membiasakan siswa untuk mendengarkan bila guru atau siswa lain berbicara/bertanya.
3. Menghargai perbedaan pendapat
4. Mentolelir ‘salah’ dan mendorong untuk memperbaiki
5. Menumbuhkan rasa percaya diri siswa
6. Memberi umpan balik terhadap hasil kerja siswa
7. Tidak terlalu cepat membantu siswa
8. Tidak kikir memuji atau menghargai.
9. Tidak menertawakan pendapat atau hasil karya siswa sekalipun kurang berkualitas.
10. Mendorong siswa untuk tidak takut salah dan berani menanggung resiko.
E. Ruang Kelas yang Menunjang Belajar Aktif
1. Berisi banyak sumber belajar, seperti buku dan benda nyata
2. Berisi banyak alat bantu belajar, seperti batu, lidi, tanaman, dan alat peraga.
3. Berisi banyak hasil kerja siswa, sperti lukisan, laporan percobaan, dan alat hasil percobaan.
4. Letak bangku dan meja diatur sedemikian rupa sehingga siswa leluasa untuk bergerak.
sumber:buku Pembelajaran Aktif, British council
Anak kita memiliki ciri perkembangannya yang khas dalam belajar
pada tiap masa kehidupannya.
Sebagai orangtua, kita dapat menjadi penolong yang jauh lebih
efektif bila kita memahami apa yang dibutuhkan anak kita sesuai
dengan masa pertumbuhannya. Berikut akan kami sampaikan
beberapa hal yang dapat kita lakukan agar anak-anak kita dapat
menguasai keterampilan belajar secara lebih optimal. Pada saat yang
sama, kita pun dapat mengurangi kesalahan-kesalahan yang sering
terjadi. Dalam banyak hal, karena kurangnya pemahaman, banyak
orangtua tanpa disadari justru menghambat tumbuhnya keterampilan
belajar pada anak-anaknya.
MASA PRASEKOLAH
Pada masa prasekolah, yang paling penting bagi seorang anak adalah
belajar mengenai bagaimana cara belajar, bukan sekadar belajar isi
materi pelajaran. Untuk itu, orangtua dapat membantu melatih anak
dengan beberapa cara, antara lain:
Melatih anak memulai dan menyelesaikan pekerjaan.
Biarkan anak memilih permainan atau kegiatan tanpa didikte
orangtua. Beri kesempatan kepada anak untuk melakukan
kegiatannya sampai selesai dan membereskan apa yang sudah
dia kerjakan. Usahakan untuk tidak memotong permainan atau
kegiatan anak dengan memberikan usulan lain. Biarkan dia
menekuni apa yang sedang ia mainkan atau lakukan.
Melatih anak mengerjakan tugas sendiri.
Hal ini ternyata harus dimulai sejak anak masih bayi. Ketika
dia sudah mulai dapat menikmati mainan-mainan sederhana di
ranjangnya, orangtua yang baru pertama kali punya anak
biasanya akan sangat terdorong untuk selalu menemaninya
bermain. Sesungguhnya anak perlu dilatih untuk mengisi
waktunya sendiri dan bermain sendiri. Kebiasaan untuk selalu
menemani bayi bermain dapat menciptakan kebergantungan
pada orang lain. Kebiasaan ini dapat terus melekat menjadi
pola belajar yang juga sangat bergantung pada orang lain.
Melatih anak menyukai baca dan tulis.
Membaca dan menulis adalah dasar dari semua keterampilan
belajar. Dengan keterampilan baca dan tulis yang baik, anak
dapat masuk ke dalam berbagai bidang pelajaran. Oleh sebab
itu, sejak kecil tanamkan minat baca dan tulis yang besar.
Biarkan anak membolak-balik buku-buku atau mencoret-coret
kertas. Sering-seringlah memberi pujian. Kegiatan ini jauh
lebih bermanfaat daripada permainan-permainan elektronik
yang tampaknya lebih menarik. Ajaklah anak ke perpustakaan
atau toko buku secara rutin dan biasakan untuk
mengalokasikan dana untuk membeli buku sebanyak dana
untuk membeli mainan. Bacakan cerita-cerita menarik dengan
buku di tangan. Sediakan buku-buku menarik sebanyak
mungkin segera setelah anak mulai dapat membaca. Terus
kembangkan minat anak untuk menulis dengan memberi
kesempatan melatih kemampuan motoriknya untuk mencoretcoret
atau menyusus abjad-abjad menjadi kata-kata sederhana
yang bermakna.
MASA SEKOLAH DASAR
Masa sekolah dasar merupakan masa sangat penting bagi anak-anak
untuk mengembangkan dasar-dasar pola belajar yang sudah
ditanamkan pada masa prasekolah. Beberapa langkah yang dapat
dilakukan orangtua untuk membangun keterampilan belajar anakanaknya
antara lain:
Kembangkan kemampuan baca dan tulis.
Terus ciptakan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan
kemampuan baca dan tulisnya. Di tengah ke sibukan anak
dengan pelajaran sekolah dan kesibukan orangtua dengan
pekerjaan, kebiasaan untuk berkunjung ke perpustakaan perlu
terus dihidupkan. Banyak orangtua hanya bersemangat pada
masa pra sekolah. Ketika anak sudah di sekolah dasar,
kebiasaan baik ini justru ditinggalkan. Lebih baik anak
mendapat nilai PR pas-pasan akan tetapi program ini tetap
berlangsung. Jika anak terus dipaksa mengerjakan PR dan
beban lainnya sehingga tidak sempat membaca dan menulis
hal yang ia sukai, anak akan kehilangan sukacita belajar yang
justru sangat penting bagi kehidupannya. Dorong semangat
anak menulis dengan cara mengirimkan tulisan untuk majalan
dinding sekolah atau majalan anak-anak, atau
memperkenalkan dengan sahabat pena.
Bantu anak membangun pola belajar mandiri.
Pola belajar mandiri harus dimulai dengan menyusun jadwal
belajar sendiri. Buatlah suatu papan jadwal dengan kartu-kartu
kegiatan. Pada tahap awal, temani anak untuk menyusus
rencana hariannya sehingga ia dapat memutuskan sendiri
kapan mengerjakan kewajibannya dan kapan dia mempunyai
waktu bersantai atau mengerjakan apa yang ia sukai. Dengan
demikian, anak tidak merasa didikte. Anak juga akan belajar
untuk mengerjakan apa yang disukai dan apa yang tidak
disukai namun harus dikerjakan. Perlahan-lahan, latihlah anak
untuk mendahulukan tugas yang sulit sehingga dia tidak perlu
cemas dan tegang pada malam hari karena tugas belum
selesai.
Ajarkan anak ketekuanan dan ketelitian.
Beberapa orangtua mengatakan bahwa sekolah umumnya
hanya memberikan materi pelajaran, tetapi tidak mengajarkan
cara belajar yang baik yang akan menumbuhkan ketekunan
dan ketelitian. Anak harus dilatih untuk tekun yaitu dengan
memberi kesempatan pada anak untuk menyelesaikan sendiri
pekerjaan yang mampu dia lakukan. Perasaan puas dengan
hasil pekerjaan sendiri merupakan suatu perasaan penting bagi
anak untuk tumbuhnya ketekunan. Akan sulit bagi anak untuk
menumbuhkan ketekunan jika dia merasa tugas-tugas yang
dihadapi terlalu sulit untuk diselesaikan. Sebab itu, jika PR
terlalu banyak atau sulit, orangtua harus membicarakan hal ini
dengan pihak sekolah. Ketelitian juga dapat ditumbuhkan
dengan cara meminta anak memeriksa sendiri apa yang sudah
dikerjakannya. Untuk pertama kali, dapat dibuat suatu
perjanjian misalnya: “Jika jawaban soal-soal kali ini
dikerjakan tanpa salah, besok Mama yang periksa. Kalau ada
kesalahan satu saja, kita periksa bersama-sama. Tetapi jika
soal kali ini ada kesalahan lebih dari satu, besok kamu harus
periksa sendiri, baru setelah itu Mama yang periksa.” Setelah
anak periksa sendiri masih ada kesalahan, orangtua jangan
langsung menunjukkan kesalahan, tapi beri kesempatanan satu
kali lagi untuk ia periksa sendiri.
Berikan fasilitas belajar yang dibutuhkan untuk
mengerjakan PR-nya.
Seperti juga ketika kita masih kecil, anak-anak kadang
membuat orangtua frustasi dengan mengatakan: “Pa, besok
saya harus membawa kapas tiga gulung untuk proyek di
sekolah.” Dan dia mengatakannya pada pukul 12.00 malam
ketika kita sudah memakai baju tidur.Mary Leonhardt
menganjurkan agar situasi pada saat itu tidak dipakai untuk
mengajar anak tentang tanggung jawab. Saat itu adalah
saatnya menunjukkan kepada anak bahwa anda pun melihat
pekerjaan rumahnya sangat penting, seperti yang ia rasakan.
Tanpa perlu marah-marah gantilah baju dan carilah apotik 24
jam untuk mendapatkan kapas tersebut. Tanpa anda perlu
katakan dengan nada marah, anak akan berkata dalam hatinya:
“Lain kali aku akan lebih teliti mempersiapkan tugasku,
sehingga Papa tidak perlu serepot ini.” Jika anda tidak yakin
anak menyadari hal itu, katakan esok harinya: “Papa akan
lebih senang jika kamu memperhatikan tugas lebih awal,
sehingga kita dapat mempersiapkan lebih baik.”
Berikan hadiah dengan bijaksana.
Hadiah akan mengajarkan anak suatu nilai. Jika anda
memberikan hadiah pada prestasi anak, maka dia akan belajar
bahwa yang bernilai adalah prestasi. Tapi jika anda
memberikan hadiah pada proses, maka dia akan belajar bahwa
proses lebih bernilai daripada prestasi. Mary Leonhardt
menganjurkan agar orangtua memberikan hadiah bukan pada
prestasi tapi proses. Misalnya dengan mengatakan, “Kamu
boleh main sepeda keliling rumah setelah mengulang
pelajaran selama lima belas menit.” Atau anda dapat
memberikan pelukan dan pujian setelah anak memainkan lagu
yang sulit di pianonya sebanyak tiga kali sekalipun pada kali
yang ketiga masih banyak kesalahan. Pujilah untuk
kemampuan dia bertahan lama dalam belajar lebih daripada
ketika dia berhasil mendapatkan nilai sepuluh dalam ulangan.
MASA REMAJA
Pada masa remaja, ketika anak masuk ke SMP, cara orangtua untuk
membimbing anaknya akan berubah 180 derajat. Jika pola yang
diterapkan pada usia SD tetap diteruskan, hasilnya justru lebih sering
kurang efektif atau bahkan akan gagal total. Untuk itu, orangtua
perlu sangat hati-hati pada masa remaja ini sehingga dapat terus
menjadi penolong bagi anaknya. Beberapa kiat yang dapat
diterapkan pada masa ini antara lain:
Jangan terlalu banyak menanyakan tugas anak.
Kalau pada masa SD anak sangat butuh dikontrol, ditanya dan
dibimbing, pada masa remaja hal ini justru dapat
menimbulkan penolakan yang luar biasa. Anak yang
memasuki masa remaja umumnya merasa sangat risih jika
orangtua terlalu banyak ikut campur, apalagi sampai
menanyakan apa yang dilakukan anaknya kepada temantemannya
atau guru-gurunya. Pada masa ini orangtua harus
lebih banyak memberikan kebebasan pada anak untuk belajar
secara mandiri, bahkan untuk bergumul dengan kegagalan
maupun keberhasilan.
Berikan bantuan jika diminta dan usahakan bantuan
seminimal mungkin.
Orangtua perlu membantu jika anak meminta bantuan. Tetapi,
prinsipnya, jangan sampai anak tergantung kepada kita dalam
mengerjakan tugasnya. Berikan bantuan seperlunya saja.
Bantuan tidak harus langsung untuk memecahkan masalah.
Kadang-kadang, kita hanya perlu memberi rangsangan agar
dia dapat memecahkan masalahnya sendiri. Berikan rangsana
supaya bukan selalu anda yang mengajari anak, tetapi
bagaimana anak mengajari anda.
Jangan sepelekan masalah emosi, kesehatan dan status
sosial.
Menurunnya prestasi belajar tidak selalu karena kemampuan
intelektual yang kurang atau karena kemalasan. Anak remaja
banyak diganggu oleh masalah emosi dalam pergaulan,
kesehatan atau konflik di antara kelompok mereka. Orangtua
perlu mendampingi anak sebagai pendengar yang baik dan
mencoba untuk memahami pergumulan mereka di luar
lingkup kegiatan belajar di sekolah. kadang-kadang tanpa
menyinggung masalah nilai prestasi anak dapat meningkat
karena ia merasa sebagian beban hidupnya sudah dipikul
bersama kedua orangtuanya.
Hargai minat dan bakat anak.
Anak tidak harus selalu mendapat nilai bagus dalam semua
bidang. Jika anak lebih berminat pada matematika dan tidak
mempunyai bakat dalam pelajaran bahasa, kita harus
memberikan peluang kepada anak untuk lebih menekuni
matematika dan rela hati menerima nilai bahasa yang tidak
setinggi nilai matematika. Arahkan anak untuk memilih
jurusan yang sesuai dengan bakatnya dan hargai minatnya itu.
Jika anak memilih jurusan sesuai minatnya, kemungkinan
untuk berprestasi jauh lebih besar dibandingkan jika dia
memilih jurusan yang hanya sekadar memenuhi keinginan hati
orangtua. Anak yang memilih jurusan yang bukan pilihannya
sendiri cenderung bermasalah karena hatinya memberontak
dan tidak puas.

Kiranya kiat-kiat di atas dapat membawa manfaat bagi anda dan
dapat memberi tambahan bekal dalam mendampingi anak-anak agar
mereka dapat menguasai pola belajar yang efektif dan bertumbuh
menjadi pribadi-pribadi yang mandiri.
PENILAIAN HASIL BELAJAR
Penilaian adalah program untuk memberikan pendapat dan penentuan arti atau faedah suatu pengalaman. Pengalaman tersebut merupakan oerubahan perilaku karena hasil belajar.
Fungsi penilaian
  1. Membantu siswa merealisasikan dirinya untuk mengubah atau mengembangkan perilakunya
  2. Membantu siswa mendapat kepuasaan atas apa yang telah dikerjakannya
  3. membantu guru untuk untuk menetapkan apakah metode mengajar yang digunakan telah memadai
  4. membantu guru membuat pertimbangan administrasi
Tujuan penilaian hasil belajar
˜ memberikan informasi tentang kemajuan siswa
˜ memberikan informasi yang dapat digunakan utuk membina kegiatan-kegiatan belajar lebih lanjut
˜ memberikan informasi untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa, menetapkan kesulitan belajar dan untuk melaksanakan remedial
˜ mendorong motivasi belajar siswa dengan cara mengenal kemajuannya sendiri
˜ memberikan bimbingan yang tepat untuk memilih jurusan atau sekolah yang sesuai dengan keadaan siswa
Asas penilaian hasil belajar
˜ penilaian bersifat keantitas atau kualitas
˜ penilaian dilaksanakan secara berkesinambungan
˜ penilaian bersifat keseluruhan
˜ penilaian bersifat objektif
˜ penilaian bersifat kooperatif
Penilaian hasil layanan bimbingan belajar
1. penilaian ditujukan pada pengentasan masalah siswa dan perkembangan aspek-aspek kepribadian siswa
2. dengan penilaian dapat mengetahui apakah layanana yang diberikan efektif dan memberikan dampak positif terhadap siswa
3. penilaian dapat diakukan melalui format individual, kelompok, klasikal dengan media lisan atau tulisan
Tahap-tahap penilaian hasil belajar
˜ penilaian segera
˜ penilaian jangka pendek
˜ penilaian jangka panjang
Penilaian proses kegiatan
1. penilaian dilakukan terhadap proses kegiatan dan pengelolaannya
2. hasil penilaian proses digunakan untuk meningkatkan kualitas
BIMBINGAN BELAJAR
Bimbingan belajar merupakan layanan bimbingan yang diarahkan untuk membantu para siswa dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah belajar, mengembangkan dri, sikap,, dan kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan serta menyiapkannya untuk mengikuti pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi.
LATAR BELAKANG PROGRAM BIMBINGAN BELAJAR DI SEKOLAH
  • ˜ Bimbingan memberikan pelayanan dengan perbedaan individu para siswa
  • ˜ Bimbinga turut berpengaruh terhadap perkembangan jasmani dan rohani siswa
  • ˜ Bimbingan membantu para siswa untuk meningkatkan hasil belajar yang baik dan berupaya agar mereka tidak mengalami kegagalan belajar
  • ˜ Bimbingan mendorong guru-guru menggunakan tes-tes prestasi belajar
  • ˜ Bimbingan memberikan bantuan kepada bidang penelitian untuk memberikan data yang akurat tentang siswa
MASALAH –MASALAH BELAJAR YANG DIHADAPI SISWA
1. Pengenalan kurikulum
2. Pemilihan jurusan
3. Cara belajar
4. Penyelesaian tugas-tugas
5. Pencarian dan penggunaan sumber belajar
6. Perencanaan pendidikan lanjut
TUJUAN BIMBINGAN BELAJAR
1. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif
2. Memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat
3. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif
4. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan
5. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian
FUNGSi BIMBINGAN BELAJAR
  • ˜ Pemahaman
  • ˜ Preventif
  • ˜ Pengembangan
  • ˜ Perbaikan
  • ˜ Penyaluran
  • ˜ Adaptasi
  • ˜ Penyesuaian
Menurut Romine, fungsi bimbingan belajar adalah sebagai berikut :
1. Mengorientasikan siswa kepada sekolah
2. Membantu siswa untuk merencanakan pendidikannya di sekolah lanjutan
3. Membanut siswa untuk mengenal minat dan kemampuan masing-masing
4. Mengorientasikan siswa kea rah dunia kerja
5. Membantu siswa untuk memecahkan masalh hubungan antara siswa perempuan dan laki-laki
6. Membantu siswa berlatih menyelesaikan tugas-tugas
PRINSIP UMUM BELAJAR
  • ˜ Belajar merupakan bagian dari perkembangan
  • ˜ Belajar berlangsung seumur hidup
  • ˜ Keberhasilan belajr dipengaruhi oleh beberapa faktor
  • ˜ Belajar encakup semua aspek kehidupan
  • ˜ Kegiatan belajar berlangsung pada setiap waktu dan tempat
  • ˜ Belajar berlangsung dengan guru atau tanpa guru
  • ˜ Belajar berencana & disengaja menuntut motivasi yang tinggi
  • ˜ Pembuatan belajar bervariasi dari yang paling sederhana sampai yang sangat kompleks
  • ˜ Dalam belajar terjadi hambatan-hambatan
  • ˜ Untuk kegiatan belajar tertentu perlu bantuan
PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN BELAJAR
  • ˜ Bimbingan belajar diberikan kepada semua siswa
  • ˜ Guru sebelumnya harus berusaha memahami kesulitan yang dihadapi siswa
  • ˜ Bimbingan belajar yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan masalah dan faktor-faktor yang melatarbelakangi
  • ˜ Bimbingan belajar hendaknya menggunakan teknik yang bervariasi
  • ˜ Dalam memberikan bimbingan belajar hendaknya guru bekerja sama dengan staf sekolah yang lain
  • ˜ Bimbingan belajar diberikan dalam situasi belajar baik disekolah atau di luar sekolah
POKOK-POKOK BIMBINGAN BELAJAR
  1. Pemantapan sikap dan kebiasaan belajar
  2. Pemantapan system belajar dan berlatih, baik secara mandiri maupun kelompok
  3. Pemantapan penguasaan materi program belajar di sekolah
  4. Pemantapan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, social, dan budaya
  5. Orientasi belajar di perguruan tinggi
  • Menurut Cronbach, unsur – unsur belajar antara lain sebagai berikut :
o Tujuan
o Kesiapan
o Situasi
o Interpretasi
o Respons
o Konsekuensi
o Reaksi terhadap kegagalan
  • Menurut Gagne, Tipe – tipe belajar adalah sebagai berikut :
o Belajar tanda – tanda
o Belajar perangsang jawaban
o Rantai perbuatan
o Hubungan verbal
o Belajar membadakan
o Belajar konsep
o Belajar aturan – aturan
o Belajar pemecahan masalah
  • Prinsip – prinsip belajar
o Belajar merupakan bagian dari perkembangan
o Belajar berlangsung seumur hidup
o Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor – faktor
o Belajar mencakup semua aspek kehidupan
o Kegiatan belajar berlangsung pada setiap tempat dan waktu
o Belajar berlangsung dengan guru ataupun tanpa guru
o Belajar berencana ddan disengaja menuntut motivasi yang tinggi
o Perbuatan belajar bervariasi dari yang paling sederhana sampai yang sangat kompleks
o Dalam belajar dapat terjadi hambatan – hambatan
o Untuk kegiatan belajar tertentu diperlukan adanya bimbingan dari orang lain
  • Fase – fase belajar
Menurut Bruner, fase dalam belajar antara lain :
  • Fase informasi ( tahap penerimaan materi )
  • Fase transformasi ( tahap pengubahan materi )
  • Fase evaluasi ( tahap penilaian materi )

Menurut Wittig, fase belajar adalah sebagai berikut :
  • Acquisition ( tahap penerimaan informasi )
  • Storage ( tahap penyimpanan informasi )
  • Retrieval ( tahap mendapatkan kembali informasi )

Menurut Bandura, fase belajar antara lain :
  • Attentional phase ( tahap perhatian )
  • Retention phase ( tahap penyimpanan dalam ingatan )
  • Reproduction phase ( tahap reproduksi )
  • Motivation phase ( tahap motivasi )

About RK Entertain

Radio Kurnia FM Trenggalek"-Informasi Music Dan Budaya" Telp.0821 4107 4555 SMS.0821 4107 4666
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar